Selasa, 01 Desember 2009

CINTAI KARYA BANGSAMU, cintai perbedaan

Diblokir Gara-gara Menkominfo Baru
2009 | Wicaksono |
Aksi blokir kembali terjadi. Kali ini menimpa sebuah blog berisi kartun Nabi Muhammad. Pemblokiran berawal dari surat bertanggal 19 November yang diteken oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring.
Isinya permintaan kepada Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia untuk memblokir blog ini. Blog tersebut dianggap melanggar SARA, merendahkan agama, dan memuat gambaran mengenai ajaran Islam yang salah.
Karena dikeluarkan oleh seorang menteri yang berwenang mengurus masalah komunikasi dan informatika, surat itu kontan direspons secara cepat oleh beberapa perusahaan penyelenggara jasa Internet, seperti Fastnet, CBN, Smart, dan Mobi Mobile.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, perusahaan-perusahaan itu langsung melakukan pemblokiran. Tapi rupanya ada miskomunikasi. Penutupan itu ternyata tak hanya berlaku pada satu blog, melainkan seluruh akses ke Blogspot. Akibatnya, blog-blog lain juga kena imbas. Para pengguna Internet, khususnya para narablog, pun melontarkan protes.
“Saya heran, hari gini masih musim blokir-blokiran, ya, Mas. Berlebihan sekali, kan? Lagi pula pemblokiran itu terkesan diskriminatif. Buktinya, masih banyak situs yang juga melecehkan agama lain tapi dibiarkan saja,” kata Mat Bloger, kawan saya yang blognya di Blogspot ikut tertutup aksesnya.
Saya memaklumi kekesalan hati Mat Bloger kawan saya itu. Hanya gara-gara seekor tikus, satu lumbung dibakar. Padahal memang begitulah kehidupan di ranah Internet. Jejaring raksasa ini bukan wilayah atau benda suci. Ia bisa tercemar oleh tikus dan buaya pengganggu. Lalu ada kelompok yang tersinggung dan marah. Tapi, menurut saya, kita sebaiknya lebih arif dan bijaksana menghadapi tukang bikin onar itu.
Blog bisa berpengaruh sekali. Isi blog yang tersebar bisa menghasut. Pendapat khalayak ramai bisa terbentuk. Dan seseorang atau sekelompok orang dirugikan. Tapi marilah kita renungkan sejenak. Perlukah kita cemas bila yang dihadapi hanya satu atau dua blog dengan jumlah pengunjung harian beberapa puluh atau ratus orang saja, sementara kita hidup di negeri yang penduduknya, katakanlah, 230 juta?
Mungkin perlu. Tapi itu berarti kita mungkin sudah tak bisa lagi membedakan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebuah tulisan atau komik yang menyakitkan hati belum tentu berarti sesuatu yang mengacau negeri. Demokrasi, konsep yang menjadi landasan ranah blog, memang riuh dan rumit, tapi masih perlu dipertahankan. Saya malah khawatir, jika kita terlalu berlebihan bereaksi dan merespons blog sontoloyo itu, akibatnya bisa berabe. Kehidupan berdemokrasi yang menghargai perbedaan pendapat jadi terancam.
“Nah, itu dia yang saya juga cemaskan, Mas. Sampean tentu masih ingat kasus film Fitna!, yang membuat pemerintah memblokir YouTube dan beberapa situs lain tempo hari. Siapa yang rugi? Kita semua, kan?” kata Mat Bloger.
“Mestinya kita tak perlu berlebihan seperti itu. Saya merasa para narablog juga tak senang dan mengecam tindakan blog yang memuat kartun Nabi Muhammad itu. Para narablog toh bukan komunitas pengacau. Mereka itu kelompok yang melihat blog sebagai alat — yang terkadang dilupakan — untuk memperbaiki kualitas dan mengembangkan pilihan-pilihan baru dalam bacaan.
Di ranah blog, ada yang namanya kearifan khalayak. Kearifan khalayak inilah yang menjadi penjaga nilai-nilai dan etika kehidupan di ranah blog. Kalau ada yang menyeleweng, khalayak bereaksi. Minimal mengabaikan blog pengacau itu.”
“Apakah karena menterinya masih baru ya, Mas?”
“Mungkin. Yang penting Pak Menteri sudah mengoreksi keputusannya dan sekarang akses ke Blogspot sudah dibuka kembali. Saya berharap, kelak, kasus semacam ini tak terulang lagi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar