Rabu, 20 Oktober 2010

turut BERDUKA

Briptu Hadi Dikenal Tak Pernah Mengeluh
Sabtu, 30 Oktober 2010 - 15:30 wib

Hasan Kurniawan - Okezone

JAKARTA - Briptu Hadi Riyanto, salah seorang polisi yang tewas dalam insiden jatuhnya pesawat milik Polri jenis Skytruck di Nabire, Papua Barat, dikenal sebagai pria yang tak pernah mengeluh.

“Dia orangnya baik dan pendiam. Dia sangat sayang kepada keluarga. Selama menjadi Polisi Udara, dia tidak pernah mengeluh. Semua dijalaninya dengan sabar,” kata Murtini, Ibu Briptu Hadi saat ditemui di Bandara Pondok Cabe, Sabtu (30/10/2010).

Hadi merupakan satu dari lima anggota polisi udara yang tewas saat menyerahkan bantuan Wasior, Papua. Sementara itu, keempat rekannya saat ini juga dimakamkan hari ini di tempat berbeda.

AKP Irwan, Pilot pesawat Skytruck itu langsung bawa pihak keluarga untuk segera dimakamkan di Taman Makam Polisi Berjasa Cikeas, Bogor. Iptu Bayu Dwi dimakamkan di Madiun, Jawa Timur.

Ipda M Amri di Makassar, Sulawesi Selatan. Briptu Hadi Rianto dimakamkan di Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, dan Briptu Syaiful Bahri, dimakamkan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.(kem)

Aksi Heroik Briptu Ade Berakhir Tragis

IST
Oleh :
Jabar - Rabu, 20 Oktober 2010 | 14:34 WIB

INILAH.COM, Cirebon- Malang nian nasib Briptu Ade Suharto Sindu. Aksi heroiknya mengamankan pencuri dari amukan massa berakhir tragis untuknya. Anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Kapetakan Kabupaten Cirebon itu tewas, menjadi tumbal amukan massa yang kesal pada pencuri motor itu.

Peristiwa itu terjadi Selasa (19/10/2010) malam di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Ketika itu Ade hendak mengamankan pencuri motor yang tertangkap warga. Ia sempat mengamankan pencuri itu di rumah warga sambil menanti mobil polisi tiba.

Ketika mobil datang, pencuri itupun digiring ke mobil. Namun, saat itu massa mengamuk dan hendak menghakimi pencuri itu. Naluri polisinya langsung tergugah, ia memasang badan agar pencuri itu tidak jadi bulan-bulanan. Ia bahkan merangkul pencuri itu dan melindungi dengan badannya. Warga tetap saja merangsek, memukul pencuri itu, bahkan ada pula yang melempar batu.

Lemparan batu dan pukulan itu rupanya ada mengenai kepala Ade. Akibat luka-luka yang dideritanya, nyawa Ade tidak tertolong walaupun ia sempat dibawa di RS Pertamina Klayan. Pencuri yang belakangan diketahui bernama Ridwan itu juga tewas dihakimi warga. Ia ditenggelamkan di sungai yang ada di dekat tempat kejadian perkara.

Ade kemudian dimakamkan di TPU Ciawi, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Rabu (20/10) pagi. Kepala Polres Cirebon, AKBP Edy Mardianto menyatakan tindakan Ade patut menjadi teladan. Atas jasanya, Edy berjanji akan mengusulkan agar Ade memperoleh penghargaan anumerta berupa kenaikan pangkat satu tingkat. [TJ]
Demo Setahun SBY-Boediono Memakan Korban Jiwa
Kamis, 21 Oktober 2010 - 10:41 wib

K. Yudha Wirakusuma - Okezone

LAMONGAN – Aksi demonstrasi memperingati satu tahun pemerintahan SBY-Boediono menimbulkan korban jiwa. Seorang perwira polisi di Lamongan, Jawa Timur, meninggal dunia karena aksi demo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, polisi tersebut bernama AKP Slamet Riyadi (51). Dia tewas usai menjaga aksi demonstrasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Patung Adipura Pantura, Lamongan, Rabu kemarin.

Saat itu, Slamet yang menjabat sebagai Kasubbag Program Anggaran Polres Lamongan kedapatan bersitegang dengan beberapa mahasiswa. Saat itu pula, Slamet mengalami sesak di dadanya.

Melihat kondisi tersebut, Slamet langsung dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Sayang, nyawa Slamet tidak bisa tertolong. Perwira itu pun pergi untuk selamanya.

“Dia meninggal,” singkat Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Komjen Pol Timur Pradopo saat dikonfirmasi. Namun, dia enggan berbicara lebih jauh soal kasus ini. “Saya kira nanti disampaikan Kadiv Humas,” pungkasnya.
(teb)
Sabtu, 30/10/2010 09:21 WIB
Anggota Kopassus Digigit Pengungsi Merapi
Febrina Ayu Scottiati - detikNews




Sleman - Seorang bintara Kopassus, Serda Dwi Andi, digigit salah seorang pengungsi Gunung Merapi. Padahal Andi berusaha menyelamatkan nyawa pengungsi itu. Bagaimana ceritanya?

"Kemarin jam 12.00 malam, terdengar ledakan dahsyat. Saat itu saya di Pos Telemsari. Saya lari ke bawah sambil menyisir warga," ujar Andi saat ditemui detikcom di Posko Umbulharjo, Sabtu (30/10/2010).

Andi bisa merasakan saat tejadi letusan Merapi, ada sesuatu yang panas terasa di punggungnya. Namun dia terus berlari ke Posko Umbulharjo. Sampai di sana, ternyata ada kabar 2 orang warga masih terjebak di Tengokrejo. Mereka adalah seorang Nenek bernama Widi dan seorang pria bernama Gandung.

"Jadi saya dan beberapa orang lain naik ke atas. Ada juga beberapa alat berat untuk membantu membuka jalan yang tertimpa pohon tumbang," kisahnya.

Sampai di rumah Mbah Widi, Dwi mencoba membujuk nenek itu agar mau turun. Namun wanita berusia 60 tahun itu ngotot tidak mau turun.

"Demi keselamatan saya gendong saja. Tahunya Mbah Widi malah menggigit lengan kiri saya," ujar anggota Grup II Kopassus ini.

Selama dievakuasi dari Tengokrejo ke Posko Umbulharjo, Widi terus menggigit anggota Korp Baret Merah ini. Padahal waktu tempuhnya selama 1 jam. Demi keselamatan sang mbah, Andi mengaku hanya bisa pasrah.

"Ya, demi keselamatan tidak apa-apa," akunya.

(rdf/rdf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar