Rabu, 15 Februari 2017

bwat yang mo baca gurita cikeas (4)

Oleh: Ervan Hardoko

KOMPAS.com — Lengser dari tampuk kekuasaan, apalagi dari jabatan yang begitu mentereng seperti presiden Amerika Serikat, mungkin akan menimbulkan post-power syndrome berkepanjangan.
Jawabannya bisa benar bisa juga tidak, tergantung bagaimana sang mantan pemimpin mengelola dirinya. Kita ambil beberapa contoh beberapa mantan presiden AS.
George W Bush, presiden ke-43 AS, meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2009 setelah menjabat dua periode.
Dalam wawancaranya kepada Texas Monthly, Bush mengungkapkan apa yang dirasakannya pada hari pertama bangun pagi di kediamannya sendiri sebagai warga biasa.
Saat bangun pagi, Bush ngopi sambil membaca koran, dan saat itu dia langsung merasa sangat bahagia.
Dia merasa bahagia karena masalah-masalah besar yang selama delapan tahun menjadi bebannya kini menjadi pekerjaan orang lain.
"Jadi, saya kemudian mengumpulkan anjing saya, Barney dan Beazley, naik ke atas truk pikap, berangkat ke kantor saya, dan mulai menulis anekdot untuk buku saya," ujar pendahulu Barack Obama itu.
Bahkan setelah tak menjadi presiden, Bush sama sekali tak tertarik dengan dunia politik.
Hal itu diungkapkan James Glassman, mantan Direktur Institut George W Bush, saat hadir dalam acara makan malam di kediaman sang mantan presiden.
Saat itu, kenang Glassman, para tamu, di antaranya Condoleeza Rice, masih membicarakan masalah politik. Namun, Bush sama sekali tidak.
"Sangat mengejutkan melihat bagaimana minimnya perhatian Bush terhadap dunia politik," kata Glassman.
Kegiatan Bush saat ini tak jauh-jauh dari kediamannya, terutama aktivitas yang banyak dilakukannya sebelum menjadi presiden.
Dia kini sering menggelar pesta barbeku bersama tetangga, main golf, dan mengendarai sepeda gunungnya.
Sesekali dia pergi ke Afrika tempat yayasan yang dia dirikan untuk merenovasi rumah sakit dan mengembangkan program dalam memerangi kanker serviks.
Pendek kata, Bush tak mengalami apa yang disebut sebagai post-power syndrome setelah kembali menjadi warga biasa.
Justru dengan predikat mantan presiden AS, Bush bisa menjual dirinya dan membangun "karier" baru yang lebih berguna dan mulia dibanding saat menjadi presiden.
****
Hal yang sama juga dilakukan Jimmy Carter setelah kalah telak dari Ronald Reagan dalam pemilihan presiden tahun 1980. Dengan hanya memerintah satu masa jabatan, Carter saat itu pasti terpukul.
Terlebih lagi, setelah pulang ke kampung halamannya di Plains, Georgia, Carter mendapati bisnis perkebunan kacang milik keluarganya terlilit utang hingga 1 juta dollar AS.
Selain itu, kediaman pribadinya yang ditinggalkan selama empat tahun benar-benar tak terurus dan butuh renovasi total.
Oleh karena itu, beberapa pekan pertama setelah tak menjadi presiden, Carter menghabiskan waktunya untuk memperbaiki rumahnya agar layak dihuni kembali.


Saat lengser dari kursi kepresidenan, Carter baru berusia 56 tahun, dan saat itu dia yakin masih bisa hidup hingga seperempat abad ke depan.
"Dia ingin hidupnya produktif dan mencoba terus mencari sesuatu untuk dia kerjakan," kata Phil Wise, Wakil Direktur Carter Center.
Salah satu cita-cita Carter, seorang penganut Kristen Baptis yang taat, setelah tak menjadi presiden, sangat sederhana.
"Dia ingin menjadi misionaris," kata Walter Mondale, wakil presiden pada masa Jimmy Carter, suatu ketika.
Nah, salah satu keberhasilan Carter pada masa pemerintahannya adalah kesepakatan damai Mesir dan Israel yang disponsorinya, dikenal sebagai perjanjian Camp David.
Bermodalkan prestasi itu, dia kemudian mendirikan Carter Center, sebuah institusi yang membuatnya menjadi diplomat "freelance".
Selama 30 tahun terakhir, Carter Center memantau lebih dari 100 pemilihan umum di dunia dan terlibat dalam pemberantasan penyakit guinea worm di Afrika.
Carter sangat sukses mendefinisikan kehidupan pasca-kepresidenan. Dia mengubah hidupnya menjadi sebuah petualangan kemanusiaan dan filantropis.
****
Gambia adalah sebuah negara kecil di Afrika Barat yang seluruh perbatasan daratnya dikelilingi Senegal.
Negeri terkecil di Afrika ini nyaris tak pernah terdengar warga dunia hingga pemilihan presiden yang digelar pada Desember lalu.
Petahana, Yahya Jammeh, sudah berkuasa di negeri mungil itu lebih dari dua dekade. Dalam pemilu, dia menghadapi kandidat oposisi Adama Barrow.


Tak disangka, Jammeh kalah dalam pemilihan presiden karena rakyat Gambia ingin "penyegaran" sehingga memutuskan untuk memenangi sang pesaing.
Namun, Jammeh tak mau mengakui kekalahannya dan enggan lengser dari kursi empuk di istana presiden.
Alhasil, sang presiden terpilih kabur ke Senegal karena merasa nyawanya terancam.
Kisruh politik di negeri kecil itu akhirnya memicu negara-negara Afrika Barat bertindak dan bahkan mengancam akan melengserkan Jammeh dengan paksa.
Ribuan prajurit disiapkan lima negara Afrika Barat, sementara para pemimpin dari Mauritania dan Guinea membujuk Jammeh untuk mau turun takhta.
Mengapa Jammeh tak mau mengaku kalah? Kemungkinan besar dia mengalami post-power syndrome. Dia tak tahu harus melakukan apa setelah tak menjadi presiden.
Jabatan kepala negara, meski di negeri kecil dan miskin seperti Gambia, tetaplah merupakan pekerjaan idaman.
Mulai dari gaji yang besar, fasilitas nomor wahid yang disediakan negara, tinggal di istana yang mewah, pengawalan 24 jam, dan belum lagi kemungkinan mendapatkan keuntungan pribadi dari jabatan tersebut.
Mungkin di benak Yahya Jammeh, hidup sebagai warga biasa yang tak lagi memiliki kekuasaan sangat mengerikan dan sulit untuk dijalani.
Jammeh, yang mungkin merasa belum berbuat banyak untuk rakyatnya selama berkuasa dua dekade, agaknya takut untuk menjadi warga biasa karena khawatir pembalasan dari rakyat.
Bahkan, beberapa negara Afrika harus membahas tempat pengasingan bagi Jammeh demi membujuk dia untuk mau menyerahkan kekuasaannya.
****
Indonesia, meski tak setua Amerika Serikat dan bukan negara yang secara politik kisruh macam Gambia, sudah memiliki beberapa mantan presiden.
Sejak Soeharto terguling pada 1998, negeri ini sudah memiliki empat mantan presiden, yaitu BJ Habibie, almarhum Abdurrahman WahidMegawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


Keempat mantan presiden ini harus diakui memiliki kapasitas, kapabilitas, dan pengalaman yang sangat luas yang tentu sangat bermanfaat bagi bangsa ini jika digunakan dengan semestinya.
Memang dunia politik Indonesia belum seperti AS yang sudah hampir 250 tahun merdeka. Pengalaman manis dan pahit membuat AS memiliki sistem politik, yang meski tidak sempurna, setidaknya sangat stabil.
Nyaris tak ada mantan presiden AS yang mengecam kebijakan penerusnya.
Carter memang berbeda pendapat soal Korea Utara dengan pemerintahan Bill Clinton, atau juga soal perang Irak yang dikobarkan George W Bush.
Namun, Carter tak mengecam kebijakan pemerintah AS. Dia, dengan kemampuan dan jaringannya, melakukan lobi untuk menunjukkan dan memperjuangkan pendapat politiknya.
Donald Trump, pada hari pertamanya menjadi presiden, sudah berupaya untuk menyingkirkan program layanan kesehatan bagi rakyat miskin, Obamacare.
Hingga saat ini, belum ada kabar bahwa Obama kemudian berkomentar atau Partai Demokrat yang mengecam kebijakan presiden baru, meski mungkin saja kebijakan itu tak disukai.
Meski toh unjuk rasa menentang Trump kini masih digelar di AS, sejauh ini para politisi mereka, khususnya Obama, tak mengeluarkan pernyataan yang semakin memanaskan situasi.
Mungkin para politisi di AS, khususnya Obama yang baru saja menjadi mantan, menyadari betapa berbahayanya menyiram api menggunakan bensin sehingga mereka memercayakan semuanya kepada sistem yang sudah tersusun.
Seperti dikatakan David Maranniss, penulis biografi Barack Obama dan Bill Clinton, yang terpenting bagi Obama saat ini adalah keluarganya.
Pada usia paruh bayanya, Obama akan menghadapi masalah yang lebih besar yang harus dipusingkan selain post-power syndrome.
Kedua putrinya sudah beranjak dewasa dan tak lama lagi mereka akan lebih memilih berkumpul bersama teman-teman ketimbang menonton bioskop bersama ayahnya.
"Hal itu membuat saya sedih," kata Obama suatu ketika.
Sejumlah teman dekat Obama mengatakan, potensi "kehilangan" kedua putrinya yang beranjak remaja lebih membuat Obama sedih ketimbang meninggalkan Gedung Putih.
Jadi, para mantan pemimpin di negara mana pun seharusnya bisa memilih apakah mereka ingin seperti para mantan presiden AS yang bisa memberdayakan diri dan berguna bagi umat manusia, atau menjadi seperti pemimpin Gambia yang enggan lengser dan sibuk mencari suaka politik pasca-berkuasa.
Editor: Wisnubrata
๐Ÿ‘„

Liputan6.com, Jakarta - Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jakarta Utara mengusut kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Pademangan, Jakarta Utara. Balusukan yang dilakukan ayah dari Cagub DKI nomor urut 1 Agus Yudhoyono itu dilakukan saat masa tenang Pilkada DKI Jakarta, Minggu 12 Februari.
"Ini kita lagi penelusuran. Ya kita dapat laporan siang kemarin. Petugas sudah mengkroscek ke lapangan. Kejadiannya itu Minggu kemarin. Iya kita dalami," kata Ketua Panwaslu Jakarta Utara Ahmad Halim saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta Utara, Selasa (14/2/2017).
Ahmad melanjutkan, saat ini petugas Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) dan Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Pademangan juga sudah meninjau langsung lokasi yang didatangi SBY, yang diduga berada di wilayah RT 05 RW 04, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Petugas sudah mendapatkan bukti-bukti berupa foto di lokasi dan kesaksian beberapa warga.
"Kita lihat nanti. Kalau itu posko pemenangan memang tidak apa-apa. Tapi kita pastikan dulu itu posko atau bukan ya kalau bukan jelas itu pelanggaran," ujar Ahmad.
Dia menyebutkan, pelanggaran muncul bukan hanya karena itu posko atau bukan tapi bagaimana cara SBY tiba di lokasi dan siapa-siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu.
"Ya kita lihat, persoalannya kan itu masuk masa minggu tenang. Kita telusuri juga kan ramai itu kalau dilihat di foto. Apakah itu hanya tim posko atau ada warga. Kalau ada pengumpulan terus pengerahan warga itu pelanggaran. Ya kita lihat juga apakah waktu tiba di sana itu langsung ke posko atau jalan kaki sambil berkampanye. Jadi masih kita dalami," beber Ahmad.
Untuk itu, sambung Ahmad, pihak Panwaslu tengah mencari tahu apakah posko tersebut termasuk posko terdaftar. Sebab kedatangan presiden ke-6 itu diduga sebuah pelanggaran bila datang ke posko yang tidak terdaftar di KPU.

"Kalau dilihat lokasinya itu posko paslon nomor 1 karena ada spanduknya. Tapi kita cek posko itu terdaftar enggak. Kalau bukan posko terdaftar, itu sebuah pelanggaran," Ahmad menandaskan.
Tanggapan Demokrat
Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan mengatakan kedatangan SBY ke Pademangan, Jakarta Utara Minggu 12 Februari kemarin merupakan kegiatan internal.
Dia pun menegaskan saat itu SBY hanya mendatangi posko kemenangan paslon nomor 1 yang ada di Pademangan.
"Itu kegiatan internal kami. Jadi memang ada kegiatan tapi itu internal meninjau posko kemenangan AHY," kata Syarief.
Ia juga tidak menampik jika ada warga sekitar yang bukan tim pemenangan hadir di lokasi. Yang jelas, kedatangan SBY saat itu bukan untuk berkampanye di masa tenang.

"Kalau ada masyarakat di situ kan masa kami larang. (masa tenang saat itu) ya kan internal kegiatannya," tutup Syarief.

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan membantah calon Gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono (AHY) membiayai umrah sejumlah ulama ke Tanah Suci.
"Terbalik. Itu berangkatnya biaya sendiri-sendiri, dan setahu saya para ulama yang justru mengajak Agus. Jadi memang para ulama punya jadwal, terus ngajak Agus," ucap Syarif di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (14/2/2017).
Anggota Komisi I DPR ini menjelaskan, umrah antara Agus Yudhoyono dan beberapa ulama sudah direncanakan pada saat acara dengan Jaringan Santri Indonesia.
"Tapi yang jelas ide itu pada saat jaringan santri Indonesia. Pada saat sosialisasi mereka mendukung Agus, dan di situ banyak habaib-habaib dan Ketua Jaringan Santri Indonesia itu mengatakan, 'kami akan umrah dan kalau bisa mas Agus ikut'. Dengan biaya sendiri-sendiri," kata dia.

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menunaikan ibadah umrah pada masa tenang Pilkada DKI 2017. Agus umrah bersama Ustaz Al Habsyi, Ustaz Hasan Jafar Assegaf, dan beberapa ustaz lainnya. Dalam rombongan umrah itu, Agus Yudhoyono didampingi sang istri, Annisa Pohan.
๐Ÿ’‹

Jakarta - Cuitan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa rumah barunya "digrudug" ratusan orang dan aduannya kepada Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian soal itu ternyata mendapat sambutan luar biasa di laman media sosial Senin (6/2) malam hingga Selasa pagi.
Twitter Indonesia mencatat dari 10 topik yang paling banyak dibicarakan, tiga di antaranya terkait cuitan SBY tersebut.
Paling atas adalah topik dengan tanda pagar #SayaBertanya, kemudian kalimat "Bapak Presiden & Kapolri" yang disebutkan dalam 33.200 cuitan sampai berita ini dibuat, dan kalimat "Pak Beye" dalam 3.200 cuitan.
Tanggapan memang terus bermunculan sejak SBY membuat kultwit ada agitasi untuk menangkap dia dan demonstrasi di depan rumah mewahnya di Kuningan, yang belum lama ini dihadiahkan oleh negara sebagai imbalan terhadap tugasnya sebagai presiden.
Ada yang menanggapi dalam tanda pagar #SayaBertanya, atau langsung di laman Twitter resmi @SBYudhoyono.
Yang paling banyak ditanggapi adalah cuitan SBY berikut: "Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri,dgn hak asasi yg saya miliki?"
Cuitan ini mendapat 3.200 tanggapan, 4.900 retweet, dan 4.400 tanda suka sampai pukul 05.00 WIB.
✌๐Ÿ’ƒ
Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri ...
Beragam tanggapan muncul, tapi yang paling banyak adalah meneruskan kalimat "Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri ..." Dari sini, kemungkinan variasinya memang tak terhingga. Ada yang lucu, ada yang serius, ada yang asal saja.
Berikut kutipan-kutipan sebagian tanggapan di Twitter dan Facebook yang dihimpun redaksi:
#SayaBertanya Kepada bpk Presiden dan Kapolri, kenapa setiap kali ada tukang parkir indomaret saat mau keluar? saat dateng mereka tidak ada (@fathyle)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri, kenapa kalau makan nasi padang dibungkus nasinya lebih banyak daripada makan di restorannya (@papi ardi)
#SayaBertanya mengapa agus begitu takut dengan najwa SHIHAB? padahal sama rizieq SHIHAB temenan..?? (@martendoank)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri, kenapa gerobak sate bentuknya seperti perahu
#SayaBertanya Kepada Bpk Presiden dan Kapolri, kenapa pacar saya semalam bilangnya mau tidur padahal di whatsapp statusnya masih online? (@habibthink)
#SayaBertanya Kepada bpk Presiden dan Kapolri, kenapa mi dibikinin lebih enak daripada bikin sendiri? (@yeahmahasiswa)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri apakah saya salah mencintai teman pacar saya? Apakah melanggar hak asasi? (@tzarasusfa)
#SayaBertanya Saya bertanya kpd bpk Presiden dan Kapolri, kenapa mantan2 malah tambah dekil setelah meninggalkan saya pak? (@fiorenza_nad)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri,apakah saya boleh ikut kuis hadiah sepeda?? (@deasymaria9)
#SayaBertanya kepada bapak Presiden dan Kapolri, kapan saya lulus?
#SayaBertanya kepada Presiden dan Kapolri mengapa hari senin ke minggu jaraknya 6 hari, minggu ke senin 1 hari saja? (@septie_)
#SayaBertanya kpd bapak presiden dan kapolri.. Liverpool kenapa paaakkk???? Mau berapa lama lagi begini???? (@bessoYNWA)
#SayaBertanya pada pak presiden dan kapolri dimana jualan Pampers bayi yang seukuran Kebo bengkak... (@TrisnoPutro1)
#SayaBertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, knp bapaknya amel selingkuh sama gurunya amel lwt surat ? (@dipa_wahyu)
#SayaBertanya kpd bpk presiden dan kapolri kenapa diindomart jual celana dalam tp tidak ada kamar pasnya? (@Rashatrymetil)
#SayaBertanya kpd Bapak Presiden dan Kapolri, kenapa mantan bisa jadi lebih cantik daripada pas jadi pacar kita? (@divisianbu)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri, Kenapa Candi Hambalang tidak masuk dalam 7 keajaiban dunia ? (@Ajiepakubumi)
#SayaBertanya kepada bapak presiden & kapolri kenapa minuman namanya susu beruang isinya susu sapi tapi iklannya naga (@ginansinuraya)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri, kak Ema itu sebenarnya siapa sih? (@lfairdie)
#SayaBertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri kenapa disebut mie goreng padahal masaknya di rebus (@samsul_ayu)
#SayaBertanya kepada bapak presiden dan kapolri, baiknya sy ngantor ga hari ini pak? Tolong dijawab pak (@antonisade)
#SayaBertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya jadi dilamar dan menikah 2018 (@suryati_effendi)
#SayaBertanya kepada bapak presiden dan kapolri mengapa klo malem minggu para jomblo berkumpul berdoa meminta hujan? (@IndaraKA)
#SayaBertanya kepada Bapak Presiden dan Bapak Kapolri, knp yg minta UANG MUKA kecil, masih juga mengeluhkan ANGSURAN yang tinggi? (@Budimaryono)
#SayaBertanya kepada "Bapak Presiden & Kapolri" saya cuma tau 4 nama ikan saja, Apakah saya boleh ngambil sepedanya? (@Agoenk_basterds)
#SayaBertanya kepada bapak presiden & kapolri manakah yang keluar duluan telur atau ayam? (@danangyudhito)
#SayaBertanya Kepada Bapak Presiden & Kapolri,kenapa lagu2 Ebit G Ade hanya diputar ketika Indonesia mengalami bencana? (@salma_anjaka)



Heru Andriyanto/HA

BeritaSatu.com

TEMPO.COJakarta - Cuitan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal aksi unjuk rasa di depan rumahnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, menuai respons dari netizen. Respons netizen ini ditulis dengan tagar #SayaBertanya yang juga menjadi topik terpopuler obrolan di twitter.

SBY menuliskan tentang sejumlah orang yang dikabarkan datang ke depan rumahnya sambil berteriak-terak. SBY mencuit, "Saudara-saudaraku yg mencintai hukum & keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan "digrudug" ratusan orang. Mereka berteriak-teriak. *SBY*.” Cuitan tersebut dituliskan sekitar pukul 15.05, Senin, 6 Februari 2017.

Ketua Umum Partai Demokrat ini merasa tidak mendapatkan keadilan di negaranya sendiri. SBY juga sempat mempertanyakan haknya itu kepada Presiden dan Kapolri. "Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*," tulisnya. Inilah yang mendapat respons dari netizen.

Baca: 
Rumah `Digrudug`Ratusan Orang, SBY Curhat di Twitter Kicauan SBY di Twitter Ini Undang Pro dan Kontra Netizen


Seperti yang dicuit oleh Tanya Zahrasusfa melalui akunnya @tzahrasusfa, “#SayaBertanya kepada Bapak Presiden & Kapolri apakah saya salah mencintai teman pacar saya? Apakah melanggar hak asasi?”.

Karinta Zulkarnain melalui akun @karintazuls bahkan merespons dengan bertanya cara menagih utang. ”#Sayabertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, bagaimana menagih hutang kpd teman sendiri, saat kita lagi butuh2nya uang?” cuit Karinta.

Daud Setiarso melalui akun ‏@petersetiarso meniru cuitan SBY dengan pertanyaan mengenai jodoh. “Bapak presiden & kapolri #saya bertanya kemana jodoh saya sampe sekarang kok belom ketemu,” cuit Daud. Akun el diablo dalam ‏@digembok melontarkan cuitan kritis. “Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya ini pengecut? masa udah dikawal 60 paspampres masih aja lebay *SBY*,” cuitnya.

Sejumlah tokoh juga merespons cuitan SBY ini. Seperti Sutradara Joko Anwar melalui akun ‏@jokoanwar. “Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, kenapa saya gendut terus walaupun makannya dikit?” cuit Joko.

Putri Presiden keempat Abdurrahman Wahid, Yenny Zannuba Wahid, melalui akunnya @yennywahid juga menuliskan,”#SayaBertanya, kalau saya nggak hafal nama2 ikan apakah saya masih boleh ikutan kuis berhadiah sepeda?”

Tagar #SayaBertanya dan cuitan SBY tampaknyajuga menjadi hiburan. Seperti dilontarkan artis Maudy Koesnaedi lewat akun @mpokmod, “Setelah hari yg panjang dan lelah ini.. #SayaBertanya berhasil menghibur lahir batin.... Love Banged,” tulisnya sambil membubuhkan emoji hati.

Artis Cathy Sharon juga berkomentar lewat ‏@cathysharon, “#SayaBertanya kepada Presiden dan Kapolri, kenapa ini orang yang tadinya gue ngefans banget skrg malah bikin gue ilfil bangettt ...,” tulis Cathy. Hingga pukul 01.10, tagar ini bercokol di puncak topik terpopuler.

ARKHELAUS W.
Laporan Wartawan TribunStyle.com, Triroessita Intan Pertiwi
TRIBUNNEWS.COM - Minggu, (6/2/2017), Baim Wong kembali mengocok perut para follower Instagramnya.
Mantan Marshanda ini memposting meme dengan tulisan "saya mau bertanya kepada Presiden dan Kapolri, kenapa saya belum juga nikah?"
Baim terlihat sedang duduk berpose merokok dengan pandangan seolah bertanya-tanya.
Dengan back ground hitam, foto tersebut seolah menambah kegarangan Baim.
Usia Baim Wong yang sudah cukup matang (35 tahun) ini tentu membuat banyak orang penasaran kenapa ia tetap belum menikah.
Dan ternyata pertanyaan yang sama juga muncul di kapala Baim.
Kenapa Baim Wong belum menikah?





Para netter yang melihat postingan Baim kali ini pun kemudian mencoba menjawab teanda tanya Baim.
Sebagaian dari mereka mengatakan bahwa Baim merupakan tipe pemilih.





"KARENA BAIM WONG ORANGNYA PILIH PILIH" tulis akun @fitrianmarconi.
"Baim mau tau knp blm jg nikah#krn baim itu trlalu milih-manusia gk ad yg semprna@smpai kiamat gk kan ktm klm baim trs milih@elfiraloy itu wanita sholeha tp baim gk milih dia-kebanyakn artis gonta ganti pcr-tp elfira milih jomlo@brrti dia wanita sholeha.duuuhh baim nyari yg gimana lg bro@baimwong" tulis akun @suryani_cici80.
"Mungkin kak @baimwong bnyk milih" komentar akun @s.istikomah.
"Baim bnyk milih seeeee....sama anak ku aja mau yah" tulis akun @dewi_yofiko.
๐Ÿ’‹

Jakarta beritasatu – Tim pemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, tidak pernah membagi-bagikan suvenir berupa jam tangan kepada masyarakat. Seperti diketahui, foto jam tangan dengan kotak berlogo Agus-Sylvi ramai diperbincangkan di media sosial (medsos).
“Tidak ada bagi-bagi. Tidak pernah ada kami bikin begitu. Kami cuma bikin kaos, stiker, paling tinggi payung sesuai instruksi KPU DKI,” kata Juru Bicara Tim Agus-Sylvi, Imeldasari, Senin (6/2).
Dia menegaskan, pihaknya mempunyai bukti tidak pernah membagikan jam tangan. “Boleh dicek. Kita setiap kampanye tidak pernah bagi-bagi begitu,” tegasnya.
Dia mengungkapkan, di posko pemenangan Agus-Sylvi memang pernah ada masyarakat yang menjual jam tangan tersebut. “Setahuku, ada masyarakat yang jualan di posko. Masak kita larang orang mau jualan, kasihan pedagang usaha kecil,” ungkapnya.
Sebelumnya, Agus juga mengaku tidak mengetahui adanya suvenir jam tangan. “Jam tangan mewah punya siapa? Saya saja hanya memakai gelang saja ini. Saya enggak tahu masalah itu,” kata Agus di Jakarta, Minggu (5/2).
Sedangkan Juru Bicara Agus-Sylvi, Rico Rustombi menyatakan, jam tangan Agus-Sylvi yang viral di medsos merupakan bentuk kampanye hitam. “Ada jam tangan dengan berlogo Agus-Sylvi, apakah itu black campaign (kampanye hitam)? Yes (iya),” kata Rico.
๐Ÿ’ช

, KOMPAS.com — Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan satu, Sylviana Murni, masih mempunyai hubungan saudara dengan Fahrurrozi Ishaq, orang yang diangkat Front Pembela Islam (FPI) sebagai gubernur tandingan pada akhir 2014.

FPI mengangkat Fahrurrozi sebagai gubernur tandingan saat Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama naik jabatan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Saat itu, Ahok naik jabatan karena gubernur sebelumnya, Joko Widodo, terpilih sebagai Presiden RI.
Pada Kamis (2/2/2017) pagi ini, Sylviana menghadiri acara yang digelar Majelis Taklim Arrohmah di rumah Fahrurrozi di Jalan Masjid, Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur.
Saat ditemui Kompas.com seusai acara, Fahrurrozi mengatakan bahwa ia mempunyai hubungan saudara dengan Sylvi. "(Kenal) dari kecil, saudaraan, sepupu jauh," kata Fahrurrozi.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sylvi. "Saudaraan," kata Sylvi dengan singkat. 
๐Ÿ‘€
tempo.co: Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sangat berbahaya jika menjadi Gubernur DKI Jakarta karena tidak mempunyai solusi masalah di ibu kota.
"Kan kelihatan sekali dalam debat kemarin, pengertiannya dangkal sekali, pikirannya tidak kompleks dan tidak sistemik," kata Guru Besar Ilmu Politik UI, Arbi Sabit.
Menurut Arbi Sanit, dalam debat tersebut, konsep yang ditawarkan seperti bantuan langsung tunai bersifat sementara justru menjadikan rakyat Jakarta malas dan tidak mendidik.
Selain itu, Arbi tak menampik jika kehadiran Agus meramaikan perebutan kursi nomor satu DKI Jakarta tidak lepas dari keinginan sang ayah (SBY).
"Dia (Agus) ini kan calon nekat, tiba-tiba langsung mau jadi 'raja'. Bukannya sekolah raja dulu? Ini kan nggak masuk akal," ujarnya.
Maksud Arbi bahwa harus ada sekolah "raja" terlebih dahulu yakni Agus harusnya memperdalam ilmu politik lebih dulu sekurang-kurangnya lima tahun.
Salah satu caranya dengan menjadi anggota DPR, misalnya. Bahkan, menurut Arbi, akan lebih baik jika Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) sang adik yang diusung sebagai calon gubernur DKI Jakarta.
"Dia (Ibas) jauh lebih baik, karena lebih mengerti persoalan," katanya.
Arbi pun mengkritik konsep rumah apung yang ditawarkan Agus karena sangat tidak manusiawi. "Itu menyesatkan dengan alasan itulah kemanusiaan," ujarnya.
๐Ÿ‘ฎ
JAKARTA, KOMPAS.com
 - Mantan Ketua Mahkamah KonstitusiMahfud MD menilai tertangkapnya hakim MK Patrialis Akbar tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral Presiden kelima RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sebab, pada saat itu, SBY-lah yang menunjuk Patrialis sebagai hakim MK. Bahkan, penunjukan Patrialis saat itu terkesan dipaksakan.
"SBY punya tanggung jawab moral sebab dialah yang setengah memaksakan Patrialis menjadi Hakim MK," kata Mahfud saat dihubungi, Minggu (29/1/2017).
Pada Agustus 2013, tanpa seleksi yang transparan dan melibatkan publik, SBY mengangkat Patrialis menjadi hakim MK. Proses pemilihan Patrialis dianggap tidak transparan dan tidak membuka peluang bagi masyarakat untuk turut menyumbangkan pendapat.
Padahal, berdasarkan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi diatur mengenai pencalonan hakim konstitusi secara transparan dan partisipatif.
Keputusan Presiden No 87/P Tahun 2013 tentang pengangkatan Patrialis juga digugat dan akhirnya dibatalkan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara.
"Saya ketika itu sudah menulis artikel khusus di Harian Kompas agar SBY menggunakan keluarnya vonis PTUN itu sebagai momentum untuk mengoreksi kesalahannya. Saya sarankan agar SBY tak usah naik banding. Tetapi SBY tak peduli dan tetap naik banding," cerita Mahfud.
Ternyata, banding SBY dimenangkan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dan dikuatkan kembali di tingkat Mahkamah Agung.
"Tentu saja kita curiga ada unsur politik saat itu. Tetapi tak ada gunanya karena tak punya bukti yang bisa ditunjukkan. Melengganglah Patrialis di MK karena keberhasilan ngototnya SBY itu," kata Mahfud.
Mahfud mengakui, secara hukum, SBY memang tak bisa diminta tanggungj jawab apa pun atas penangkapan Patrialis.
"Tetapi perlu ditekankan, SBY tak bisa lepas dari tanggung jawab moral. Dialah yang mengangkat Patrialis dan kemudian ngotot mempertahankannya, sehingga menimbulkan musibah bagi bangsa ini," ucap Mahfud.
Patrialis ditangkap setelah diduga menerima suap senilai 20.000 Dollar AS dan 200.000 Dollar Singapura, atau senilai Rp 2,15 miliar. Pemberian dari pengusaha impor daging Basuki Hariman tersebut diduga agar Patrialis membantu mengabulkan gugatan uji materi yang sedang diproses di MK.
Perkara gugatan yang dimaksud yakni, uji materi nomor 129/puu/XII/2015 terkait Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Uji materi itu kini memasuki tahap akhir. Basuki Hariman mengakui, ia memberi uang ke Kamaludin, orang dekat Patrialis. Uang itu diberikan karena Kamaludin membantu mempertemukannya dengan Patrialis. Namun, Basuki mengaku yakin uang tersebut tidak sampai ke Patrialis.
Sementara, Patrialis membantah menerima suap. Ia justru merasa dizalimi oleh KPK. Baik Patrialis, Basuki Hariman, dan Kamaludin saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka KPK dan ditahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar