Minggu, 07 November 2010

merapi dan PENJAHAT

Senin, 08/11/2010 19:08 WIB
KPI Terima 1.128 Aduan Terkait 'Silet' & Presenter Feni Rose
Rachmadin Ismail - detikNews




Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengaku mendapat 1.128 aduan terkait tayangan infotainment di RCTI 'Silet'. Diantara aduan tersebut, ada yang mempermasalahkan presenter 'Silet', Feni Rose.

"Diantara aduan ada juga keluhan soal presenter. Itu termasuk dari aduan 1.128 yang masuk kita. Itu aduan terbanyak selama KPI ada," kata anggota KPI, Yazirwan Uyun, di sela-sela pertemuan antara KPI dengan para pemimpin redaksi sejumlah stasiun TV di Kantor KPI Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (8/11/2010).

Menurut Yazirwan, Silet telah menimbulkan keresahan di masyarakat, terutama dalam tayangan terakhirnya mengenai bencana letusan Gunung Merapi. Bahkan gara-gara tayangan Silet yang memuat ramalan-ramalan mengenai letusan dahsyat Merapi, Minggu (7/11), kemarin, banyak pengungsi melakukan eksodus.

Oleh karena itu, KPI mengimbau kepada seluruh presenter acara atau program berita agar mengikuti aturan yang tertuang dalam dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.

"Kami juga sudah mendapat aduan terutama soal penyampaian bahasa yang digunakan presenter yang dianggap berlebihan,"tambahnya.

Wakil Ketua KPI Ani Mutmainnah menambahkan, KPI juga pernah menegur soal pakaian yang digunakan para presenter infotaiment termasuk 'Silet'. Hal ini terlihat dalam beberapa tayangan terutama yang ditayangkan setelah bulan puasa.

"Setelah lebaran itu semua (pakaian) terbuka lagi. Tidak hanya Silet tapi semua program infotaiment," jelas Ani.

Sebelumnya, Feni Rose telah meminta maaf kepada masyarakat Yogyakarta atas tayangan tanggal 7 November 2010. Feni mengaku sebagai seorang presenter infotainment, dirinya murni hanya melaksanakan tugas sesuai naskah.

"Saya meminta maaf sedalam-dalamnya," kata presenter kondang itu melalui rilis kepada detikcom.
(mpr/irw)
Senin, 08/11/2010 22:13 WIB
KPI: Stasiun TV Jangan Klaim Dana Bantuan dari Pemirsa video foto
Rachmadin Ismail - detikNews


Jakarta - Hampir setiap stasiun televisi memiliki program penggalangan dana bantuan bencana. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta agar pengumpulan dana tersebut dilakukan transparan dan sumbangan masyarakat tetap diakui.

"Ada beberapa pengaduan dan kami terus mengamati. Transparansi harus dijaga, dan klaim yang menyumbang TV-x peduli, padahal itu dana penonton, harusnya sumbangan penonton TV-x," kata Wakil Ketua KPI Nina Mutmainnah di Gedung Bapetan, Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (8/11/2010).

Menurut Nina, program penggalangan dana bencana di stasiun tv sudah tampak seperti kegiatan corporate social responsibility (CSR). Nama stasiun TV yang muncul dan harum di masyarakat. Padahal dana berasal dari penonton.

Persoalan dana bencana, kata Nina, sudah diatur dalam pasal 54 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Dalam ketentuan tersebut, penggalangan dana oleh stasiun TV harus ada izin dari lembaga berwenang.

"Hasilnya juga harus dipertanggungjawabkan ke publik," tegasnya.

Saat ditanya apakah ada aduan dugaan penyelewangan dalam pengelolaan dana bencana, Nina mengaku sudah mendapatkan banyak laporan. Namun, dia masih melakukan verifikasi data sebelum membawanya ke ranah hukum.

"Kita upayakan dulu lewat Dewan Pers. Kalau itu tidak dipatuhi, baru kita ke ranah hukum," tegasnya.

Bagaimana dengan audit khusus bagi stasiun TV yang menggalang dana? Nina mengatakan hal itu sudah pernah dibicarakan di KPI, namun saat ini belum diambil keputusan.

"Sekarang kita fokus ke masalah yang urgent dulu," lanjutnya.

Komisioner KPI Yazirwan Uyun menambahkan, selain dana, ada persoalan lain yang harus diperhatikan stasiun TV terkait tayangan bencana. Menurut dia, tayangan soal korban dan darah harus diperhatikan kembali sensornya.

Selain itu, gambar yang berulang juga perlu mendapat perhatian. Sebab, akhir-akhir ini sering tayang gambar yang tidak sesuai dengan berita terakhir yang disampaikan.

"Ini gambar berulang, tapi disiarkan pada berita lain menggunakan gambar lama. Ini yang perlu dicermati oleh lembaga penyiaran secara umum," tambahnya.

Keselamatan para jurnalis di lapangan juga perlu diperhatikan. Yazirwan meminta agar tidak ada upaya untuk memperoleh gambar ekslusif namun tidak memperhatikan nyawa sang wartawan.

"Buat apa gambar ekslusif kalau nantinya meninggal. Sia-sia," tutupnya.

(mad/irw)
Bikin Resah, Tayangan Silet Akhirnya Distop
Senin, 08 November 2010 | 19:11 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia menjatuhkan sanksi penghentian sementara program tayangan infotainment Silet di RCTI. "Kami memberikan sanksi penghentian sementara ke tayangan silet karena terbukti menimbulkan keresahan di masyarakat," kata Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Dadang Rahmat di kantornya, Senin (8/11).

Seperti ditetahui, tayangan Silet di RCTI menuai kontroversi. Dipandu presenter Fenny Rose, tayangan edisi Ahad, 7 November itu menampilkan soal bencana Gunung Merapi yang meletus. Fenny membuat pernyataan yang menyebut kalau Yogyakarta adalah kota malapetaka dan Senin, 8 November 2010, akan terjadi bencana besar. Sumber yang dipakai Fenny Rose adalah sejumlah paranormal.

Menurut Dadang, sanksi terpaksa dijatuhkan karena tayangan program infotainment Ahad 7 November soal bencana Gunung Merapi dianggap berlebihan. Tayangan itu, kata Dadang, juga menimbullkan keresahan masyarakat. " Otoritas KPI menjatuhkan sanksi sesuai UU Penyiaran no.32 tahun 2008" ujarnya.

Dadang juga menegaskan, KPI memutuskan, program tayangan Silet tak dapat ditayangkan hingga pemerintah menurunkan status bencana Merapi menjadi Siaga. "Kesalahan utama menyampaikan informasi yang tampaknya tidak benar dan ada dampak psikologis di masyarakat Yogyakarta,"kata Dadang.

Sebelum menjatuhkan sanksi, kata Dadang, KPI mengaku mendapat 1128 keluhan dari masyarakat tentang tayangan itu. Jumlah keluhan itu diperoleh dalam kurun waktu 2 hari semenjak ditayangkannya program hari Minggu kemarin."Bahkan kami juga dapat informasi ada sejumlah 550 warga yang berpindah dari Muntilan ke Nanggulan setelah menonton tayangan itu," ujarnya.

Dadang meminta lembaga penyiaran lebih berhati-hati dalam hal pemberitaan. Keakuratan informasi suatu berita yang didapat, kata Dadang, harus sangat diperhatikan. "Informasi yang tepat dan akurat sangat membantu tapi kalau tidak justru akan memberikan masalah" kata Dadang menjelaskan.

RIRIN AGUSTIA
KPI: Silet Pantas Dihentikan!
Headline
IST
Oleh: Aris Danu Cahyono
Artis - Senin, 8 November 2010 | 21:00 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Tayangan Silet RCTI soal bencana Merapi membuat resah masyarakat. Buktinya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menerima ribuan surat aduan dari masyarakat.

"Itu sudah menimbulkan banyak keresahan dari masyarakat. Ada 1.128 surat pengaduan dalam satu hari. Surat aduan itu sudah sejak kemarin sampai sekarang. Pada saat berita itu ditayangkan. Bahkan ada surat aduan kalau banyak korban yang dieksploitasi," ungkap Ketua KPI Pusat Dadang Rahmat Hidayat saat jumpa pers di Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Gedung Bapeten Jl.Gajah Mada No.8, Jakarta Pusat, Senin (8/11).

Bahkan masih, menurut Dadang, surat aduan akibat tayangan itu paling banyak dalam satu hari. Hal itulah yang membuat KPI akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi kepada tayangan Silet.

"Kalau dibilang rekor komplain tertinggi kita belum tahu, karena belum merekap ulang. Tapi memang tertinggi dalam satu hari, dianggap menyesatkan, merisaukan. Masalah privasi yang banyak diungkap. Kami panggil pihak RCTI dan beri sanksi. Dihentikan bukan karena banyak surat kita hentikan tapi memang dengan alasan merisaukan. Tapi satu surat pun akan kita perhatikan," terangnya.

Dadang menambahkan, "Saya sampaikan, kita melakukan pemantauan, kalau dilakukan di televisi pemberitaan juga akan memberikan teguran tertentu. Walaupun informasi itu sebuah fakta, setidaknya teman-teman bisa dikemas agar tidak menimbulkan efek psikologis dalam masyarakat," tutupnya. [alx/aji]

Akui Salah, Redaksi Silet Minta Maaf Senin, 8 November 2010 | 03:32 WIB
Repro Kompas.com/Tri Wahono


JAKARTA, KOMPAS.com — Redaksi Silet akhirnya meminta maaf atas siaran infotainment di RCTI, Minggu (7/11/2010), yang mengabarkan ramalan letusan dahsyat Merapi. Akibat tayangan tersebut, presenter Silet, Fenny Rose, sempat dikecam banyak orang di media sosial di internet karena dinilai tidak pantas.

Dalam tayangan Silet itu, Fenny Rose sempat membuat pernyataan yang kontroversial. Antara lain menyebut bahwa Jogja adalah kota malapetaka dan pada tanggal 8 November 2010 akan terjadi bencana besar. Banyak pihak mengecam pernyataan tersebut tidak pada porsinya dan dinilai meresahkan masyarakat. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun didesak turun tangan untuk memberikan teguran ataupun sanksi.

"Segenap tim redaksi Silet memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas pemberitaan Silet edisi 7 November 2010 yang memuat ramalan dan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tentang prediksi Merapi. Simpati dan doa kami untuk seluruh korban bencana," demikian pernyataan tersebut yang ditayangkan beberapa kali di RCTI.

Pihak Fenny Rose, diwakili suaminya, sempat menanggapi kecaman publik. Suami Fenny Ros mengatakan bahwa semua isi tayangan merupakan tanggung jawab production house karena sebagai presenter tugas Fenny Rose hanya membacakan skrip yag sudah disiapkan.

Minggu, 07/11/2010 14:44 WIB
Tayangan TV Soal Merapi Berlebihan & Meresahkan, Relawan Surati KPI video foto
Irwan Nugroho - detikNews


Jakarta - Jaringan relawan di Yogyakarta mengirimkan surat terbuka kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka keberatan dengan berita televisi mengenai bencana Gunung Merapi yang dinilai berlebih-lebihan sehingga menambah resah para pengungsi.

"Bahwa saat ini keadaan bertambah tidak kondusif. Relawan yang ada di posko, yang notabene berhadapan langsung dengan warga, kini merasa kewalahan. Para relawan kesusahan menenangkan warga yang panik dan ingin pergi dari barak pengungsian ke tempat yang lebih aman," kata perwakilan relawan, Aryo Bilowo, kepada detikcom, Minggu (17/11/2010).

Menurut Aryo, banyak kejadian dalam 10 hari letusan Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah yang diberitakan secara tidak sahih oleh televisi. Mereka cenderung mendramatisasi keadaan, sehingga membuat warga semakin panik.

Contohnya, Aryo menyebut berita di salah satu stasiun TV swasta pada tanggal 29 atau 30 Oktober 2010. Wartawan televisi itu melaporkan awan panas telah mencapai Jl Kaliurang Km 6,2 atau hampir 25 km dari puncak Merapi. Belakangan diketahui, bahwa yang mencapai lokasi tersebut adalah hujan abu, bukan awan panas.

Lalu, pada tanggal 4 November, stasiun TV yang lain melaporkan adanya korban meninggal karena lahar panas. Setelah dicek, korban meninggal bukan karena lahar panas, melainkan terkena awan panas. Namun, wartawan televisi itu tetap bersikukuh dengan liputannya.

"Selain hal tersebut, pengulangan berita, stok gambar, running text dan sebagainya tidak menyertakan waktu, seolah-oleh semua kondisi terkini, bikin tambah parah," katanya.

Aryo menilai, beberapa tayangan pemberitaan yang keliru itu telah melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Disebutkan dalam pasal 3 KEJ, bahwa "Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah."

Peliputan yang tidak sesuai fakta, lanjutnya juga melanggar melanggar P3 SPS, Peraturan KPI No.02/P/KPI/12/2009. Pasal 18 peraturan KPI menyatakan tentang prinsip-prinsip jurnalistik, yakni tidak menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan opini, tidak membuat berita bohong, fitnah atau cabul.

Sementara pasal 34 menyebutkan adanya 3 ketentuan tentang peliputan bencana alam. Yaitu, melakukan peliputan harus mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya, tidak menambah penderitaan atau trauma korban bencana, dan gambar korban, penderitaan harus sesuai dengan konteks mendukung tayangan.

"Bahwa pada dasarnya media, terutama TV, saat ini menjadi media informasi utama yang dapat diakses masyarakat, sehingga jika terjadi kesalahan informasi, selayaknya segera dilakukan ralat/koreksi, agar tidak menimbulkan kepanikan warga," kata Aryo.

Bersama surat terbukanya ini, Aryo meminta KPI menertibkan secara tegas fungsi keberadaa media di lokasi bencana. Hal itu juga diperlukan agar para relawan yang di lapangan dapat bekerja dengan maksimal.

"Perlu ditertibkan secara tegas fungsi keberadaan media di lokasi bencana, terutama yang melanggar P3 SPS Peraturan KPI No.02/P/KPI/12/2009," pintanya.
(irw/nrl)

Bandit 'Wedhus' Dibekuk di Lereng Merapi
Hewan ternak para warga yang ditinggal pengungsi langsung dijarah.
Senin, 8 November 2010, 01:00 WIB
Ismoko Widjaya, Sandy Adam Mahaputra
Hewan ternak mati tersapu awan panas (AP Photo/Trisnadi)


VIVAnews - Di tengah kepedihan dan kesusahan warga di sekitar lereng Gunung Merapi, masih saja dimanfaatkan segelintir orang untuk menjarah hewan-hewan ternak yang ditinggal mengungsi. Termasuk menggasak wedhus atau kambing, bukan wedhus 'awan panas' gembel.

Para pelaku bahkan nekat menerjang kawasan yang sebelumnya dilarang oleh pemerintah karena berbahaya akan ancaman awan panas. Hewan ternak para warga yang ditinggal pengungsi pun langsung dijarah dan mereka kumpulkan di balai desa, kemudian diangkut menggunakan truk.

"Kami berhasil membekuk satu orang tersangka yang bernama SGY alias Pete. Sedangkan dua tersangka lainnya berhasil lolos," kata Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Anny Pujiastuti kepada VIVAnews.com, Minggu 7 November 2010.

Anny menjelaskan kejadian itu berawal saat para pelaku mendatangi dusun Bronggang, desa Argo Mulyo, Sleman, kemarin siang. "Mereka langsung mencuri 21 kambing dan 5 ekor sapi yang ditinggal pemiliknya untuk mengungsi," jelas dia.

Namun sial bagi para pelaku, aksi itu diketahui petugas kepolisian. Sebelum mengangkut hewan-hewan hasil curian itu, mereka mengumpulkan di balai desa.

"Saat itu ada petugas relawan dan polisi yang tengah melakukan evakuasi di dusun yang diterjang awan panas itu," imbuhnya. Kecurigaan dari petugas pun muncul, ketika melihat ternak warga yang dikumpulkan dan rencananya akan diangkut menggunakan truk.

Berdasarkan keterangan pelaku yang berhasil ditangkap SGY alias Pete, warga Karangnongko, Klaten. Ia dan kedua kawannya mengaku mengambil kesempatan untuk menjarah ternak warga yang sebelumnya telah ditinggalkan mengungsi. Padahal dusun itu merupakan daerah steril yang harus dikosongkan.

"Mereka memang nekat, meskipun menengetahui bahaya terkena awan panas ketika mencuri," tutur Anny. Kemungkinan pelaku menggunakan jalur "tikus" untuk bisa sampai ke dusun yang mana akses utamanya telah dibarikade petugas agar tidak bisa dilalui warga.

Ia pun meminta para pengungsi untuk tidak khawatir terhadap hewan ternaknya yang dicuri oleh kawan penjahat. "Kami pasti akan lakukan pengawasan," tegasnya.

Sebelumnya, Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta, Brigjen Polisi Odang Sutarsa menegaskan akan melakukan tindakan tegas terhadap para pengungsi yang masih ngotot untuk kembali ke desanya hanya untuk memberikan makan hewan ternaknya.

"Daerah yang 20 Km sangat berbahaya, jadi pasti akan kita cegah, kalau perlu dengan cara dipaksa untuk segera kembali ke pengungsian atau tempat yang aman," ujar Odang saat berbincangan dengan VIVAnews.com di tempat pengungsian GOR Maguwoharjo.

Ia meminta pengungsi untuk bersabar menunggu kondisi merapi normal kembali. "Kalau sudah normal pasti diperbolehkan kembali ke rumah. Namun kondisi sekarang belum memungkinkan. Kami lakukan itu, demi keselamatan dan menghindari adanya korban jiwa," pungkasnya.
(hs)• VIVAnews

Minggu, 31 Oktober 2010

merapi dan Solo

Kawah Baru Merapi Volumenya 1,6 Juta Meter Kubik
Kamis, 11 November 2010 | 04:06 WIB


TEMPO/Arif Wibowo

TEMPO Interaktif, Yogayakarta - Gunung Merapi sudah membentuk kawah baru dengan volume 1,6 juta meter kubik. Kecepatan pertumbuhan kawah di Merapi tersebut sebesar 48 meter kubik per detik. Sementara kandungan gas S02 (sulfur dioksida) juga masih sangat tinggi yakni 180 kilo ton perhari.

Dua data ini diperoleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB) Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, dari beberapa tenaga ahli asal Perancis dan Inggis yang datang ke Indonesia untuk memantau Gunung Merapi. Lantaran alat pemantau tidak berfungsi karena tertutup mendung, maka Surono meminta agar Merapi difoto satelit.

Hasil ini rupanya mengejutkan seorang ahli dari Inggris. Pertumbuhan kawah yang begitu cepat dan kandungan gas yang tinggi dinilai membahayakan. “Itu yang membuat takut kawan saya dari Cambrigde, SO2-nya kok begini naiknya dari 40, 80, sampai 180 kilo ton perhari. Itu bahaya,” kata Surono usai jumpa pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana Rabu malam, (10/11).

Surono mengakui, kandungan SO2 pada tanggal 1 November lalu, masih dibawah angka 100. Dengan demikian, jika hasilnya 180 kilo liter perhari, maka jumlahnya besar. Jika kandungan gas masih tinggi, maka praktis letusan yang akan dihasilkan lebih hebat. Itu pula yang terjadi pada letusan Merapi pada 26 Oktober dan 4 November lalu.

Surono tak menampik jika gas ini juga akan mempengaruhi tekanan magma yang membuat letusan besar. “Mudah-mudahan, tidak kebumpet lagi, dan lancar. Kalau dampak gempa tektonik quisera sera kita lihat saja nanti,” ujarnya.

Data melalui satelit itu rupanya membuat takut ahli dari Inggris itu. Meski sudah meyakinkan bahwa letusan aman dalam radius 20 kilometer, rupanya si ahli tetap mengungsi ke Semarang. “Ia ngumpet dulu ke Semarang. Kalau rasa aman saya nggak punya, kalau aman saya punya di kantor ini. Tetapi ternyata dia masih deg-degan,” ujar Surono sembari tertawa lebar. Si ahli mengatakan akan ke Yogyakarta lagi jika kandungan SO2 turun di angka yang normal. Meski begitu, mereka tetap memberikan informasi hari per hari melalui telepon.



BERNADA RURIT

Senin, 08/11/2010 18:40 WIB
Merapi Meletus
Kiprah Marinir, dari Mengevakuasi Korban, Memasak hingga Mengasuh Anak foto
Parwito - detikNews


Magelang - Bencana letusan Gunung Merapi menyatukan banyak pihak untuk saling membantu. Tak terkecuali para prajurit Marinir TNI AL. Mereka turut berjibaku memberikan bantuan. Mulai dari mengevakusi korban dari wilayah rawan bencana, memasak hingga mengasuh anak-anak di tenda-tenda pengungsian.

Setidaknya hal itu terlihat di barak pengungsian Lapangan Tembak Akademi Militer (Akmil), Desa Plempungan, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di tempat itu ratusan anggota pasukan elit TNI AL itu sigap dengan tugasnya masing-masing.

Ada yang sibuk hilir mudik melakukan penjemputan atau evakuasi korban dari berbagai tempat berbahaya. Mereka membawa korban selamat ke pengungsian. Bagi korban luka atau meninggal dibawa ke tempat khusus lainnya.

Sementara yang lainnya, sibuk memasak di dapur umum. Mereka meracik sejumlah bahan makanan menjadi makanan siap saji bagi para ribuan pengungsi.

"Wah baru tahu saya, ternyata tentara bisa masak," ujar Siti Umairoh (40), salah satu pengungsi dari Desa Keiren, Kecamatan Srumbung kepada detikcom. Sudah tiga hari ini dia berada di barak pengungsian itu.

Di bagian lainnya, para anggota Marinir terlihat asyik bercanda dengan sejumlah bocah. Ada saja ulah dan perkataan mereka yang membuat anak-anak itu tertawa. Kesan tegas atau garang seorang prajurit militer serasa tidak berbekas.

"Aku senang banget main bola sama bapak tentara," ujar Andri Sulistiyo (11), asal Desa Ngargosuko, Kecamatan Dukun.

Pakai Hati dan Kemanusiaan

Wakil Komandan (Wadan) Satgas Penanggulangan Bencana Merapi Korps Marinir TNI-AL, Mayor Marinir Idha Muhamad Basri menyatakan, pihaknya menerjunkan 450 personel untuk membantu para korban letusan Merapi. Mereka yang ditugaskan memang diminta untuk mengedepankan hati nurani dan perasaan kemanusiaan dalam menjalankan tugas.

"Terbaik untuk rakyat adalah terbaik untuk kita. Dan itu semua harus dilakukan dari hati ke hati," ungkap Basri.

450 Personel Marinir itu diterjunkan di wilayah Magelang dan Klaten. Mereka bertugas mengendalikan penduduk, mencari korban, serta melakukan kegiatan sosial lainnya, seperti pengadaan barak pengungsi, pengobatan pengungsi, distribusi logistik, serta penyiapan dapur umum.

"Pesan saya kepada anggota, rebutlah hati rakyatmu yang sedang kesusahan dengan hatimu sendiri yang juga sebagai rakyat," tutur Basri.

(djo/djo)
Awan Panas Merapi Masih Keluar Beruntun
Letusan Merapi yang diiringi gemuruh masih terjadi dan terlihat asap setinggi 3-4 km.
Senin, 8 November 2010, 08:23 WIB
Arry Anggadha
MERAPI MELETUS LAGI (AP Photo/Gembong Nusantara)


VIVAnews - Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitasnya sejak meletus hebat pekan lalu. Pagi ini, Merapi masih mengeluarkan awan panas dan guguran lava pijar secara beruntun.

Berdasarkan laporan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak Senin 8 November 2010, pukul 00.00-06.00 WIB guguran dan awan panas itu terus terjadi secara beruntun.

Sementara itu, letusan juga kerap terjadi. Pengamat Gunung Merapi dari Ketep melaporkan, terlihat asap setinggi 1 kilometer dan menimbulkan suara gemuruh keras. Di Ketep terjadi hujan abu dengan arah angin ke barat dan barat laut.

Pengamat dari Klaten melaporkan, terlihat kolom setinggi 3-4 km, tekanan kuat, warna abu-abu muda dengan arah condong ke barat daya, diiringi suara gemuruh yang keras. Aliran awan panas teramati mengalir ke Kali Gendol dan Kali Woro.

Badan ini juga melaporkan, hingga saat ini berdasarkan hasil pemantauan instrumentasi dan visual menunjukkan aktivitas Gunung Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awan panas dan lahar. Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak Merapi.

Saat ini, endapan material hasil erupsi di sepanjang alur sungai yang berhulu di puncak Merapi semakin besar. Endapan tersebut berpotensi menjadi lahar, apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. (art)
• VIVAnews

Warga Tak Resah Soal Ramalan 1 Kliwon
Senin, 8 November 2010 - 05:10 wib

Misbahol Munir - Okezone


YOGYAKARTA - Prediksi akan terjadinya letusan Gunung Merapi yang lebih dahsyat, santer dibicarakan oleh sebagian warga Yogyakarta.

Letusan tersebut diprediksi akan tejadi pada tanggal 8 November 2010 atau bertepatan dengan tanggal 1 Kliwon penanggalan Jawa. Sebagaimana diketahui ramalan ini sempat ramai menjadi gunjingan pembicaraan masyarakat.

Apalagi isu tersebut juga ramai disiarkan oleh beberapa stasiun televisi. Namun, hingga kini masyarakat tidak terlalu panik dengan ramalan tersebut. Menurut salah satu warga Banguntapan, Bantul, Edwin Ristianto, warga sempat panik dengan menyebarnya pesan singkat (SMS) dan siaran telivisi yang menyebutkan akan terjadi letusan yang lebih dahsyat.

"Warga sempat panik dengan siaran TV dan SMS yang menyebar, bahwa bakal terjadi letusan lebih besar," ungkap Edwin kepada Okezone, Senin, (8/11/2010).

Kata Edwin, ramalan tersebut bisa saja terjadi. Menurut ramalan itu, akan terjadi letusan lebih besar bertepatan dengan 1 Kliwon atau pada malam bulan purnama. Sebab dalam teori ilmiah terjadinya ombak besar atau badai laut pada tanggal 1 Kliwon atau bulan purnama dikarenakan medan magnet bumi tersebut tersedot oleh medan magnet bulan.

"Tanggal 8 November yang bertepatan dengan satu Kliwon atau bulan baru atau lebih tepatnya bulan purnama. Ketika purnama, kalau prediksi ilmiahnya ada kemungkinan Merapi kesedot oleh magnet bulan," kata dia.

Kendati demikian, warga saat ini sudah mulai kondusif dan tidak mengalami kepanikan. "Warga tidak begitu panik akibat pemberitaan di sejumlah media TV dan pesan singkat yang menyebar luas di kalangan masyarakat," kisahnya.

Edwin mengakui, sebagian besar warga memang masih percaya dengan ramalan tersebut. "Sebagian warga masih percaya dengan hal tersebut dan warga masih ramai membicarakannya. Namun, tidak menunjukkan keresahan," pungkasnya.(ram)
Relawan Merapi, Pengabdian hingga Akhir Hayat
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Irfan Fikri
Nasional - Senin, 8 November 2010 | 04:13 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Lima orang tim relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) tewas diterjang awan panas. Mereka bertahan sampai detik terakhir menjaga rumah warga dan gudang logistik dari penjarahan.

Slamet Ngatiran relawan pertama yang tewas saat Merapi pertama kali 26 Oktober 2010. Slamet relawan terlatih warga asli Glagaharjo, Cangkringan Sleman dan masih kerabat dengan mbah Maridjan.

Slamet meninggalkan seorang istri dan satu orang anak.Andi Hanindito Komandan Tagana bercerita, kalau istri slamet nampak tegar saat mendengar suaminya meninggal saat tugas. "Anaknya juga harus tahu. Kalau bapaknya meninggal saat menunaikan tugas mulia," ucap Andi.

Empat orang lainnya tewas saat merapi erupsi pada Jumat (6/11/2010). Supriyadi dan Jupriyanto belum ditemukan jenazahnya. Sedangkan Ariyanto, Samiyo sudah dimakamkan Minggu siang.

"Sebetulnya saya sudah melarang, karena kondisi lapangan yang tidak terprediksi. Namun rasa solidaritas mereka sangat tinggi, akhirnya mereka tetap ke atas," kata Andi seperti dilansir dari siaran tvOne, Minggu petang kemarin.

Alasan mereka ke atas adalah untuk menjaga gudang logistik warga. Serta menjaga rumah warga sekaligus mengevakuasi warga yang masih terjebak di atas. Mengingat saat itu erupsi Merapi terjadi tengah malam secara tiba-tiba.

Empat orang ini memang sangat mengerti kondisi Merapi, karena tumbuh dan besar di kaki gunung Merapi di Cangkringan, Sleman. Mereka terlatih menjadi relawan sejak Merapi "batuk" pada 2006 silam.

Namun tiba-tiba awan panas datang menerjang. Tak dikira kecepatan awan langsung megarah ke lokasi meraka. Dua orang terjebak di dalam gudang logisik, dua orang lainnya tidak ketahuan, karena sedang keliling mencari korban Merapi.

Diduga kedua korban ini tertimbun debu vulkanik. Namun teman-teman mereka tak putus asa untuk mencari dua jenazah. "Kita akan terus berusaha. Siapa tahu dengan mukjizat tuhan, siapa tahu mereka selamat," harap Andi.

Andi mengatakan, saat ini ada sekitar 1.800 relawan yang tersebar di Boyolali, Sleman, Magelang untuk membantu korban Merapi. Tak terkikis sehelai pun semangat mereka meski lima rekan mereka tewas. Tetap semangat Kawan! [hid]

Minggu, 07/11/2010 22:42 WIB
Detik-detik Saat 4 Relawan Tagana Tewas Terkena Wedhus Gembel
Irwan Nugroho - detikNews
Jakarta - "Keempat orang ini anak-anak Glagaharjo. Mereka mempunyai motivasi yang sama
untuk menyelamatkan para pengungsi di desanya. Kinerjanya bagus sekali. Tapi
Tuhan berkehendak lain. Kami merasa sangat kehilangan."

Itulah kesan yang disampaikan oleh Komandan relawan Taruna Siaga Bencana
(Tagana) Andi Anindito, terhadap 4 relawan Tagana yang gugur saat bertugas di Gunung Merapi. Dua jenazah, Ariatno dan Samiyo, kini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Sedangkan dua lainnya, Supriyadi dan Supriyanto, masih terkubur material panas Gunung Merapi sedalam 3 meter.

"Keluarga sudah meminta agar segera ditemukan. Tapi bagaimana lagi. Jenazah
tertimbun 3 meter oleh material merapi. Lagi pula material itu masih sangat
panas," kata Andi ketika dihubungi detikcom, Minggu (7/11/2010).

Andi menceritakan, pada saat terjadi letusan terdahsyat Merapi pada Kamis 4 November 2010 hingga Jumat keesokan harinya, keempat relawan itu berjaga di dusunnya, Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar 12 Km dari puncak Merapi.

Supriyadi dan Supriyanto menjaga gudang logistik bantuan. Sementara Ariatno dan Samiyo berjaga di tempat lain, namun masih berada di wilayah Glagaharjo.

Ketika Merapi menunjukkan tanda-tanda memburuk pada Jumat pukul 01.00 WIB,
Supriyadi dan Supriyanto mendengar adanya sejumlah penduduk yang terancam oleh awan panas. Di sisi lain, keduanya harus menjaga logistik pengungsi.

"Namun, mereka tetap mendekati para pengungsi dan membujuk turun. Akhirnya malah nggak selamat," ucapnya.

Sebelum wedhus gembel turun menggulung, menurut Andi, Supriyadi dan Supriyanto sempat menelepon posko yang berada di bawah. Komandan lapangan saat itu meminta agar keduanya segera turun dan menyelamatkan diri. Namun, mereka memilih untuk menjemput para pengungsi.

Begitu pula dengan Ariatno dan Samiyo. Kedua relawan ini tetap bertahan untuk mengevakuasi warga meski wedhus gembel kian dekat. Mereka sebenarnya menunggu kendaraan susulan yang akan melarikannya ke tempat aman, namun terlambat.

Menurut Andi, keempat relawan yang meninggal itu adalah orang-orang terakhir
yang berada di zona bahaya ketika Merapi meletus. Sebagai warga setempat, mereka mempunyai tingkat emosional dan rasa pengorbanan yang besar bagi para warga Glagaharjo.

Sebagai relawan, mereka tidak hanya mengenal peta Gunung Merapi secara detil. Mereka memiliki kompetensi untuk penanggulangan bencana. Setiap anggota tim Tagana juga dibekali dengan latihan, rencana aksi, dan kemampuan untuk tanggap darurat.

"Tapi situasi seperti kemarin memang tidak kita duga sebelumnya. Sangat cepat. Semua orang tidak mengira," tutupnya.

(irw/nwk)
Relawan Tagana yang Hilang Sempat Miscall
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Irfan Fikri
Nasional - Senin, 8 November 2010 | 00:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Dua orang relawan yang hilang dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) sampai saat ini belum ditemukan. Diduga keduanya tertimbum debu vulkanik setinggi 3 meter dan sempat mengirim miscall.

Komandan tim Tagana Andi Hanindito menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih mencari dua anggotanya yang hilang, yaitu Supriyadi dan Jupriyanto yang bertugas menjaga gudang logistik di Glagaharjo, Cangkringan Sleman.

"Salah satu dari mereka sempat miscall ke teman-teman yang ada di bawah. Namun seperskian detik ketika akan ditelepon kembali langsung tidak aktif," ujar Andi, seperti dilansir dari siaran tvOne Minggu petang. Diduga keduanya langsung diterjang wedhus gembel dengan cepat sekali dan di luar perkiraan.

Kejadian ini terjadi pada Jumat (5/11/2010). Setelah salat jumat tim penyelamat mengirim empat relawan untuk menjaga logistik di gudang. Mereka adalah Ariyanto, Samiyo, Supriyadi Juprianto.

Keempat orang adalah warga asli Glagaharjo Cangkringan, Sleman. Terlatih menjadi tim relawan dan sangat mengerti medan Merapi, terutama sejak Merapi erupsi pada 2006 lalu. "Dua orang bertugas di dalam gudang ditemukan jenazahnya. Namun dua orang menyisir lokasi sulit. Kabarnya mereka sempat lari dan menyelamatkan diri, namun diduga tidak mencapai titik aman," ucap Andi. Tim Tegana Senin hari ini akan tetap mencari dua rekannya yang hilang.

Andi menjelaskan, sebelumnya ada relawan yang tewas, yaitu Slamet Ngatiran. Dia adalah korban pertama saat letusan 26 Oktober 2010 lalu. Berbarengan dengan Mbah Maridjan meninggal, Slamet juga masih kerabat dari mbah Maridjan. [hid]
Jumat, 05/11/2010 20:09 WIB
Mbah Rono: Mbah Maridjan Meninggal Bukan karena Awan Panas
Febrina Ayu Scottiati - detikNews




Jakarta - Banyak yang meyakini kalau Mbah Maridjan juru kunci Gunung Merapi meninggal dunia karena terkena awan panas. Tapi Kepala Mitigasi Bencana dan Vulkanologi Surono atau akrab disapa Mbah Rono punya penilaian lain.

"Mbah Maridjan enggak langsung kena awan panas," kata Mbah Rono di RS Sardjito, Yogyakarta, Jumat (5/11/2010).

Dia menjelaskan, Mbah Maridjan hanya terkena pinggiran awan panas, meski demikian panasnya mencapai 300 derajat celcius.

"Cuma pinggiran udara panas, awan panas waktu itu 800 derajat. Mbah Maridjan kena pinggiran suhunya 300 derajat," terangnya.

Dia melanjutkan, tentu bila melihat suhu setinggi itu, makhluk hidup pun tidak akan mungkin bertahan, termasuk Mbah Maridjan.

"Siapa yang bisa hidup sama suhu 300 derajat. Jadi sebelum awan panas datang ya menyingkir dahulu," tutupnya.

Mbah Maridjan ditemukan dengan luka bakar sambil bersujud menghadap ke selatan di dapur rumahnya di Kinahrejo, Cangkringan pada 26 Oktober pagi. Rumah Mbah Maridjan hanya berjarak 4 Km dari Merapi.

(ndr/gah)
*
01 November 2010
Sujud Terakhir Gareng Kinahrejo

Selasa, 17.02
Pusat Vulkanologi mencatat: Merapi mengeluarkan awan panas 9 menit.

Di Kinahrejo: Mbah Maridjan bercengkerama dengan keluarganya di rumah.

Mbah Maridjan telah bertekad tak akan pergi, apa pun kondisi Gunung Merapi. Ia tak mau mengecewakan tamu yang datang ke rumahnya di Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. "Lha, saya di sini kerasan," kata juru kunci Merapi itu kepada Tempo, yang bertamu Senin pekan lalu.

Jumat pekan sebelumnya, Maridjan pergi ke Bandung. Besannya, mertua anak nomor empat, meninggal di sana. Ditinggal tiga hari hingga Ahad, tetamu terus datang. Rumahnya memang selalu ramai, terutama oleh para pendaki gunung.

17.18
Merapi menyemburkan awan panas 4 menit.

Empat mobil, satu di antaranya bertulisan "Perusahaan Listrik Negara", tiba di rumah Mbah Maridjan. Agus Wiyarto, mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bantul, datang. Ia tiba bersama Tutur Priyanto, relawan Palang Merah Indonesia, dan wartawan Yuniawan Wahyu Nugroho.

Kepada Tempo, sehari sebelumnya, Maridjan menggambarkan pribadinya. "Kulo niki Gareng, wong cacat. Yen ngomong clemang-clemong, wong cilik tur goblok," katanya. Ia mengibaratkan dirinya Gareng, salah satu punakawan dalam pewayangan, yang digambarkan cacat dan suka bicara ceplas-ceplos. Pria 83 tahun ini ditunjuk Keraton Yogyakarta menjadi juru kunci Merapi pada 1982, ia bergelar Mas Penewu Surakso Hargo. Ketika ditemui, ia bercelana pendek hitam, berkemeja batik hijau, berpeci hitam. Ia banyak berkelakar.

Selasa sore itu, Merapi semakin bergejolak. Mbah Maridjan tak beranjak.

17.23
Merapi menghamburkan lagi awan panas 5 menit.

Mbah Maridjan masih menerima tamu. Langit di ufuk barat merah bara.

17.30
Merapi memuntahkan awan panas 2 menit.

Asih, putra Mbah Maridjan, menyerukan azan magrib lewat pengeras suara masjid di samping rumah.

17.37:
Merapi mengeluarkan awan panas 2 menit.

Asih memimpin salat. Baru mengancik rakaat pertama, sirene meraung-raung. Tamu Mbah Maridjan dan keluarganya dievakuasi dengan dua mobil ke Umbulharjo, sekitar dua kilometer dari Kinahrejo. Maridjan bertahan.

17.42
Merapi mengeluarkan awan panas besar 33 menit.

Tutur Priyanto dan Yuniawan balik lagi buat menjemput Mbah Maridjan.

18.00
Merapi menggemuruh hingga 45 menit.

Tak ada kabar dari Kinahrejo. Dari pos Umbulharjo, Agus Wiyarto menelepon Tutur tapi tak dijawab.

18.16
Merapi menyemburkan awan panas 38 menit.

Tetap tak ada kabar dari Kinahrejo.

18.54
Awan panas Merapi reda.

Mbah Maridjan belum diketahui nasibnya.

Cemas menyergap. Anggota tim penyelamat yang kebanyakan mengenal Mbah Maridjan khawatir pada keselamatannya.�Setelah aksi Merapi mereda, 20 anggota tim berangkat menuju Kinahrejo. Sekitar 800 meter dari tujuan, rombongan tak bisa masuk. Banyak pohon tumbang melintang. Mereka meminta bantuan posko SAR di Gondang, satu kilometer dari situ, untuk membawakan gergaji mesin. "Setelah jalan terbuka, kami bergerak," kata Ferry Ardyanto, anggota tim SAR.

Baru jalan beberapa meter, tim menemukan satu jenazah pria. Tim bergerak lagi dan menemukan dua orang selamat. Satu di antaranya mereka kenali: Udi Sutrisno, adik Mbah Maridjan. Ia akhirnya meninggal di rumah sakit karena luka bakar parah. Bergerak beberapa meter lagi, mereka menemukan pria renta selamat. Tim terus bergerak di jalan menanjak. Di perempatan jalan sebelum rumah Mbah Maridjan, mereka menemukan tiga mayat.

Mereka naik. Di situ bertemu dua orang yang masih hidup. Dari tempat itu, terdengar suara, "Tulung..., tulung...." Ternyata seorang perempuan yang seluruh bajunya terbakar, kulitnya melepuh. Mereka terus bergerak. Di satu rumah yang hancur, tim menjumpai, ya Tuhan..., jasad seorang ibu muda dalam posisi menyusui bayi yang baru berusia 35 hari. Dua makhluk tak bernyawa. Kelabu oleh debu. Di rumah itu, tim juga menemukan suami wanita itu ikut tewas. Juga orang tua dan kakek si perempuan.

Di depan pekarangan rumah Mbah Maridjan, anggota tim SAR, Martono Arbi Wibisono, mengucap salam dengan histeris. "Assalamualaikum," teriaknya berulang-ulang. Martono menangis. Ia terenyuh menyaksikan rumah si Mbah hancur. Pria 46 tahun ini mengenal sang juru kunci sejak remaja, ketika menjadi pencinta alam. "Hati saya bicara, Mbah sudah wafat," katanya. Tapi ia segera bisa menguasai diri.

Sebelum turun ke rumah Mbah Maridjan, yang lebih rendah dari jalan, tim dibagi jadi dua kelompok. Satu kelompok dipimpin Capung Indrawan, bertugas menyisir masjid di depan rumah. Mereka ingat letusan 2006, Mbah sedang di masjid. Ternyata ia tak ditemukan di sana. Perpustakaan masjid juga kosong.

Mereka menemukan jenazah Sarno Utomo, yang biasa menyerukan azan, dan Slamet Adi, adiknya. Mereka tinggal tak jauh dari masjid. Menurut Asih, anak Mbah Maridjan, Sarno dan Slamet, menjadi anggota jemaahnya pada petang itu. "Mereka tak terangkut karena mobil sudah penuh," katanya.

Satu kelompok lagi dipimpin Martono menyisir rumah. Tiba di halaman, mereka menemukan mayat di belakang mobil Suzuki APV. Mesin mobil tetap hidup, semua pintunya terbuka. Mayat ini langsung mereka kenali sebagai Yuniawan, sang wartawan. Di sebelah jenazah ada tas, di dalamnya tiket pesawat Sriwijaya Air Jakarta-Yogya atas namanya. Dalam tiket tertera, ia tiba dari Jakarta pukul 13.30 siang harinya.

Menurut Agus Wiyarto, sebelum terbang ke Yogya, Yuniawan menghubunginya. Wartawan itu minta tumpangan untuk berangkat bareng ke Kinahrejo. Rupanya, pesawat Yuniawan telat. Baru sekitar pukul empat sore tiba. Agus dan Yuniawan bertemu di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, utara kampus Universitas Gadjah Mada. Agus, Tutur, dan Yuniawan berangkat bersama ke Kinahrejo.

Tim menemukan lagi dua mayat di dalam rumah Mbah Maridjan. Satu di antaranya Tutur, relawan PMI. Tutur punya pengalaman menjadi relawan ketika tsunami Aceh, gempa Yogya, dan gempa Padang. Ketika tim sedang berusaha keras mencari Mbah Maridjan, Asih tiba. Ia tak kuasa menahan tangis melihat rumah yang ia tinggali bersama ayah, ibu, juga anak dan istrinya sudah tak berbentuk. Mbah Maridjan belum diketahui nasibnya.

Asih mengatakan Selasa malam itu sebenarnya ingin menyampaikan titipan Keraton Yogyakarta agar Mbah Maridjan menyembelih kambing hitam. Buat melengkapi sesaji, ia diminta menyediakan kelapa, pisang, dan bunga tiga warna. Hingga di depan rumah, Asih kelu. Ia berpikir, ayahnya sudah meninggal.

Larut malam, tim menghentikan pencarian. Mereka bekerja lagi Rabu subuh. Rumah Mbah Maridjan ditelusuri kembali. Sebagian anggota tim melakukan penyisiran di sekitar rumah. Tiba-tiba Martono berteriak. Ia memanggil semua anggota tim mendekat. Ia berdiri dekat kamar 5 x 3 meter di belakang dapur. Menurut Asih, kamar ini dibangun beberapa tahun lalu, agar jika anak-cucu berkumpul tak kekurangan ruang tidur.

Di kamar itu jenazah dalam posisi sujud, menghadap selatan-arah pusat Kota Yogyakarta. Jenazahnya tertutup rangka rumah dan batang pinus yang menimpa tembok kamar. Pecahan asbes dan abu membuat badannya memutih. Pintu kamar masih berdiri. Martono mengenalinya sebagai Mbah Maridjan dari tengkuk dan kepalanya. Setelah semua penghalang disingkirkan, tim membersihkan abu yang menempel di jenazah. Syahadat, salawat, dan tahlil digumamkan. Setelah bersih, jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. "Saya lihat telapak tangannya masih halus utuh karena menempel ke lantai," kata Martono.

Keganasan awan panas Merapi malam itu merenggut 36 nyawa, termasuk Mbah Maridjan. Awan panas 600 derajat Celsius membakar tubuh mereka. Petaka pada Selasa malam itu juga membuat sejumlah dusun yang semula rimbun menjadi mirip padang pasir, tandus terbakar. Awan panas-penduduk sekitar menyebutnya wedhus gembel atau domba-merusak Desa Umbulharjo dan Kepuharjo. Belum ada identifikasi pasti jumlah rumah rusak, hewan ternak mati, dan harta benda lain yang ludes.

Sabtu dinihari pekan lalu, gunung yang tingginya hampir 3.000 meter ini masih beraksi. Gunung teraktif di dunia itu menyemburkan awan panas, abu, dan menimbulkan suara gemuruh. Kota Yogyakarta dan sekitarnya dilanda hujan abu.

Sehari sebelumnya, awan panas menyembur kembali hingga tiga kali. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta Subandrio mengatakan bahwa krisis baru berakhir jika sudah terbentuk kubah baru disertai muntahnya lava pijar. "Ancaman Merapi masih serius," katanya.

Merapi mulai menggeliat sejak September lalu. Gemuruh dari perutnya makin kerap terdengar. Status awas atau "kritis hampir meletus" ditetapkan tiga hari sebelum semburan yang menewaskan Mbah Maridjan dan 35 orang lainnya.

Kini Mbah Maridjan menghuni "rumah" barunya di pemakaman Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Sang Gareng dikuburkan, Kamis pekan lalu, persis di sebelah barat pusara kakeknya. "Nyuwun donganipun, mugi Mbah dipun tampi Gusti Allah, nggih," kata Ponirah, istrinya.

Sunudyantoro, M. Syaifullah, Pito Agustin Rudiana (Yogyakarta)


Solo Hujan Abu
Laporan wartawan KOMPAS.com Kristianto Purnomo
Minggu, 31 Oktober 2010 | 19:45 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO



KLATEN, KOMPAS.com - Erupsi Gunung Merapi yang terjadi sore ini (Minggu, 31/10/2010) mengakibatkan hujan abu yang bisa dirasakan hingga di Kota Solo. Hal ini dipantau dari komunikasi handy talkie pos pemantauan visual Gunung Merapi, Balerante, Klaten, Jawa Tengah.

Menurut relawan pemantauan visual Gunung Merapi Balerante, Agus, munculnya awan panas skala besar dipicu longsornya dua kubah lava di kepundan Gunung Merapi.

Pasca letusan hebat Gunung Merapi listrik di kawasan Kaliurang pun padam.
Surono, si Penjaga "Asli" Merapi
Kamis, 04 November 2010 | 12:45 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Suaranya bariton. Pembawannya tenang. Gaya bicara lugas. Rambutnya beruban. Itulah Surono. Sosok yang sepekan terakhir ini identik dengan Gunung Merapi.

Pernyataannya selalu menjadi rujukan siapapun. Keakuratan informasi yang diberikan ini membuat dia menjadi buruan para wartawan. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi pengungsi Rabu (03/11), tak mau meramalkan sampai kapan pengungsi harus bertahan di barak pengungsian.

“Kalau saya ditanya, kapan masyarakat bisa pulang, saya bilang kalau yang menentukan adalah Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana),” kata SBY di posko utama Pakem usai menerima paparan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengku Buwono X dan Surono, Rabu (3/11).“Saya pun patuh dan tunduk pada Pak Surono.”

Surono memang menjadi figur central dikala gunung berapi bergejolak. Surono bukan Maridjan. Surono selalu memegang data-data ilmiah sedangkan Maridjan hanya mempercayai pada "kepercayaan". Surono ditunjuk pemerintah, Maridjan pilihan keraton.

Karenanya, sejak status Merapi dinyatakan awas, Surono memang tak pernah bisa tidur nyenyak. Sama seperti Merapi yang terus meletup-letup.

Kepada Tempo ia bercerita, lima hari sebelum Merapi meluncurkan wedhus gembel saat itu dirinya berada di Menado. "Pada tanggal 21 Oktober itu saya langsung meluncur ke Yogya," ujarnya.

Saat itulah detik demi detik ia amati sendiri gejolak yang terjadi di Gunung Merapi. "Apa berani menyuruh orang lain mengetik?" katanya, Kamis (04/11). "Untuk status awas semuanya saya ketik dewe (sendiri), saya telepon sendiri bupatinya."

Siapa Surono? Lahir di Cilacap, 8 Juli 1955 pria ini menyelesaikan S1-nya dari Institut Teknologi Bandung (1982). Pada 1989 ia kemudian melanjutkan S2 Bidang Geofisika di Universitas Grenoble, Prancis dan melanjutkan S3 Bidang Geofisika di universitas yang sama pada 1992.

Sebelum mencapai posisi puncak di dunia Vulkanologi, bapak dua anak ini, memang merintis karir di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen ESDM.

Di Kementerian ESDM, awalnya Surono menjadi staf Divisi Pengamatan Gunung Api di PVMBG sejak 1982 hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala PVMBG mulai 2006.

Keahliannya tentang kegunungapian dikontonginya dari berbagai lembaga dunia. Seperti dari Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan USGS (sebuah lembaga Survei Geologi AS). Begitu pun tulisan-tulisannya tentang kegunungapian.

BERNADA RURIT | FAJAR WH | EVAN

Biodata:
Nama: Surono
Lahir: Cilacap, Jawa Tengah, 8 Juli 1955
Istri: Sri Surahmani (46)
Anak:
1. Amy Rahmawati (28)
2. Bestri Aprilia (21)
Pendidikan:
- S-1 Institut Teknologi Bandung,
Jurusan Fisika (1982)
- S-2 dan S-3 Université Joseph Furier, Gronable, Perancis, Programe Mechanique Mileux Geophysique et Enveronment
(1986-1992)
Pekerjaan:
- Bekerja di lingkungan PVMBG (dulu Direktorat Vulkanologi) Departemen ESDM sejak 1982.
- Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana Geologi (2003)- Kepala PVMBG (2006)

Arti Posisi Sujud sebagai Pesan Mbah Maridjan
Headline
beritajatim.com
Oleh: Irvan Ali Fauzi
Nasional - Rabu, 27 Oktober 2010 | 16:01 WIB


INLAH.COM, Jakarta- Menurut mantan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi, posisi sujud Mbah Maridjan saat wafat mengandung pesan terakhir Mbah Maridjan.

"Mbah Maridjan menyerahkan diri kepada Allah dalam keadaan sujud, seakan memberitahu kita bahwa hanya sujud kepada Allah yang bisa dan harus kita siapkan menghadapi segalanya, karena tak mungkin melalui rekayasa kita," ujar Hasyim kepada INILAH.COM, Rabu (27/10/2010).

Dengan wafatnya Mbah Maridjan yang juga pengurus NU itu, Hasyim teringat pesan juru kunci Gunung Merapi itu saat ditemui pada 2006 yang dia sampaikan dalam bahasa Jawa. "Panjenengan sak konco poro piageng, kedah 'temen lan sak temene' mugi ndonyane tenterem. (Anda dan para pembesar harus benar dan bertindak sebenarnya agar alam tenteram)," kata Hasyim mengenang.

Hasyim kemudian mengenang sewaktu Mbah Maridjan mengucapkan itu saat Hasyim berkunjung ke rumahnya. "Beliau sangat sederhana. Karena beliau Ketua Ranting NU desa setempat, saya memberi beliau jaket bertuliskan NU, serta seperangkat alat salat dan beliau sangat gembira," kenang Hasyim lagi.

Mbah Maridjan memang dikenal sebagai orang yang sangat sederhana. "Bahkan rumahnya pun baru diperbaiki setelah beliau jadi bintang iklan jamu kuku bima dan itupun digunakan membangun masjid," kata Hasyim yang juga pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok itu.[nic]

Minggu, 24 Oktober 2010

mahasiswa dan BUKAN mahasiswa

Rivalitas Mahasiswa Usai Datangi Istana

inilah.com/Agung Rajasa
Oleh : Ahluwalia
Nasional - Minggu, 24 Oktober 2010 | 21:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Rivalitas politik antar mahasiswa BEM Nusantara versus BEM Seluruh Indonesia (SI) mencuat usai demo 20 Oktober. Sejumlah elit mahasiswa telah bertemu Presiden SBY di Istana. Isyarat kompromisme, dekadensi politik ataukah pragmatisme sesaat?

Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara menduga ada oknum atas nama gerakan mahasiswa yang melakukan deal melalui pertemuan antara mahasiswa dengan Presiden SBY kemarin.

Memang, santer kabar beredar bahwa di tengah memanasnya tensi politik nasional memperingati satu tahun Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, beberapa aktivis mahasiswa justru menghadap Presiden SBY. Padahal, kekuatan mahasiswa adalah kekuatan moral, bukan political power untuk deal dan transaksi.

"Deal deal kalangan elite BEM SI lakukan di Istana dan sudah jelas mereka tidak merepresentasikan BEM Nusantara karena hanya hadir dua ketua BEM sedangkan yang tiga lainnya bukan Ketua BEM serta demisioner atau tidak menjabat lagi," beber Koordinator Nasional Fernando di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, kemarin.

Para analis dan cendekiawan menyayangkan pemerintah tidak tanggap melihat kejanggalan ini. BEM Nusantara, menganggap bahwa pemerintah telah melakukan 'grand design' untuk mengadu domba dalam ranah konflik horizontal yang berarti memecah belah gerakan mahasiswa.

Realitas ini jelas sungsang dan tipikal perselingkuhan politik selain tentu saja sangat bertentangan dengan moralitas mahasiswa. "BEM Nusantara masih mempunyai perasaan sebagai agent of change dan konsisten dalam menjalankan fungsi sosial kontrol," kata Fernando.

Presiden menerima para aktivis mahasiswa BEM SI itu Jumat (22/10) sekitar pukul 17.00 WIB, didampingi Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan Menpora Andi Mallarangeng.

Mereka adalah Presiden Mahasiswa Trisakti Atma Winata, Mantan Presma UKI Tomohon Sulut Albert Hama, Ketua BEM Universitas Cendrawasih Papua Thomas Warijo dan Ketua BEM FISIP Universitas Cendrawasih Alberto Mansawan.

Para aktivis mahasiswa itu diterima langsung dan menjabat tangan presiden secara bergantian. Sesaat kemudian, mahasiswa dari beberapa universitas dipersilakan masuk ruang pertemuan.

"Pertemuan mahasiswa dan SBY di istana itu menjadi sarat politis karena demo 20 Oktober belum mengendap sepenuhnya bahkan ada mahasiswa yang tertembak polisi," timpal pengamat politik Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti. [mdr]

Kamis, 21 Oktober 2010

pengurangan pajak @sumbangan wajib keagamaan

Jumat, 22/10/2010 12:04 WIB
Zakat Akhirnya Jadi Pengurang Pajak
Wahyu Daniel - detikFinance


Jakarta -
Pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan yang mengatur zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib, dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak.

Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2010 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 20 Agustus 2010 lalu.

Dalam salinan PP yang dikutip detikFinance, Jumat (22/10/2010), aturan tersebut mulai berlaku sejak 23 Agustus 2010.

Pada aturan tersebut, zakat atau sumbangan keagamaan yang bisa menjadi pengurang pajak adalah zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam. Zakat tersebut harus dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah.

Atau, sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.

Aturan ini menyebutkan, zakat yang dibayarkan ke badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang tidak dibentuk dan disahkan oleh pemerintah, tidak bisa menjadi faktor pengurang penghasilan kena pajak.

Pelaksanaan aturan ini berlaku surut untuk zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib sejak 1 Januari 2009.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan keberatannya mengenai usulan zakat sebagai salah satu unsur pengurang perhitungan pendapatan kena pajak.
(dnl/qom)

Rabu, 20 Oktober 2010

turut BERDUKA

Briptu Hadi Dikenal Tak Pernah Mengeluh
Sabtu, 30 Oktober 2010 - 15:30 wib

Hasan Kurniawan - Okezone

JAKARTA - Briptu Hadi Riyanto, salah seorang polisi yang tewas dalam insiden jatuhnya pesawat milik Polri jenis Skytruck di Nabire, Papua Barat, dikenal sebagai pria yang tak pernah mengeluh.

“Dia orangnya baik dan pendiam. Dia sangat sayang kepada keluarga. Selama menjadi Polisi Udara, dia tidak pernah mengeluh. Semua dijalaninya dengan sabar,” kata Murtini, Ibu Briptu Hadi saat ditemui di Bandara Pondok Cabe, Sabtu (30/10/2010).

Hadi merupakan satu dari lima anggota polisi udara yang tewas saat menyerahkan bantuan Wasior, Papua. Sementara itu, keempat rekannya saat ini juga dimakamkan hari ini di tempat berbeda.

AKP Irwan, Pilot pesawat Skytruck itu langsung bawa pihak keluarga untuk segera dimakamkan di Taman Makam Polisi Berjasa Cikeas, Bogor. Iptu Bayu Dwi dimakamkan di Madiun, Jawa Timur.

Ipda M Amri di Makassar, Sulawesi Selatan. Briptu Hadi Rianto dimakamkan di Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, dan Briptu Syaiful Bahri, dimakamkan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.(kem)

Aksi Heroik Briptu Ade Berakhir Tragis

IST
Oleh :
Jabar - Rabu, 20 Oktober 2010 | 14:34 WIB

INILAH.COM, Cirebon- Malang nian nasib Briptu Ade Suharto Sindu. Aksi heroiknya mengamankan pencuri dari amukan massa berakhir tragis untuknya. Anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Kapetakan Kabupaten Cirebon itu tewas, menjadi tumbal amukan massa yang kesal pada pencuri motor itu.

Peristiwa itu terjadi Selasa (19/10/2010) malam di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Ketika itu Ade hendak mengamankan pencuri motor yang tertangkap warga. Ia sempat mengamankan pencuri itu di rumah warga sambil menanti mobil polisi tiba.

Ketika mobil datang, pencuri itupun digiring ke mobil. Namun, saat itu massa mengamuk dan hendak menghakimi pencuri itu. Naluri polisinya langsung tergugah, ia memasang badan agar pencuri itu tidak jadi bulan-bulanan. Ia bahkan merangkul pencuri itu dan melindungi dengan badannya. Warga tetap saja merangsek, memukul pencuri itu, bahkan ada pula yang melempar batu.

Lemparan batu dan pukulan itu rupanya ada mengenai kepala Ade. Akibat luka-luka yang dideritanya, nyawa Ade tidak tertolong walaupun ia sempat dibawa di RS Pertamina Klayan. Pencuri yang belakangan diketahui bernama Ridwan itu juga tewas dihakimi warga. Ia ditenggelamkan di sungai yang ada di dekat tempat kejadian perkara.

Ade kemudian dimakamkan di TPU Ciawi, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Rabu (20/10) pagi. Kepala Polres Cirebon, AKBP Edy Mardianto menyatakan tindakan Ade patut menjadi teladan. Atas jasanya, Edy berjanji akan mengusulkan agar Ade memperoleh penghargaan anumerta berupa kenaikan pangkat satu tingkat. [TJ]
Demo Setahun SBY-Boediono Memakan Korban Jiwa
Kamis, 21 Oktober 2010 - 10:41 wib

K. Yudha Wirakusuma - Okezone

LAMONGAN – Aksi demonstrasi memperingati satu tahun pemerintahan SBY-Boediono menimbulkan korban jiwa. Seorang perwira polisi di Lamongan, Jawa Timur, meninggal dunia karena aksi demo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, polisi tersebut bernama AKP Slamet Riyadi (51). Dia tewas usai menjaga aksi demonstrasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Patung Adipura Pantura, Lamongan, Rabu kemarin.

Saat itu, Slamet yang menjabat sebagai Kasubbag Program Anggaran Polres Lamongan kedapatan bersitegang dengan beberapa mahasiswa. Saat itu pula, Slamet mengalami sesak di dadanya.

Melihat kondisi tersebut, Slamet langsung dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Sayang, nyawa Slamet tidak bisa tertolong. Perwira itu pun pergi untuk selamanya.

“Dia meninggal,” singkat Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Komjen Pol Timur Pradopo saat dikonfirmasi. Namun, dia enggan berbicara lebih jauh soal kasus ini. “Saya kira nanti disampaikan Kadiv Humas,” pungkasnya.
(teb)
Sabtu, 30/10/2010 09:21 WIB
Anggota Kopassus Digigit Pengungsi Merapi
Febrina Ayu Scottiati - detikNews




Sleman - Seorang bintara Kopassus, Serda Dwi Andi, digigit salah seorang pengungsi Gunung Merapi. Padahal Andi berusaha menyelamatkan nyawa pengungsi itu. Bagaimana ceritanya?

"Kemarin jam 12.00 malam, terdengar ledakan dahsyat. Saat itu saya di Pos Telemsari. Saya lari ke bawah sambil menyisir warga," ujar Andi saat ditemui detikcom di Posko Umbulharjo, Sabtu (30/10/2010).

Andi bisa merasakan saat tejadi letusan Merapi, ada sesuatu yang panas terasa di punggungnya. Namun dia terus berlari ke Posko Umbulharjo. Sampai di sana, ternyata ada kabar 2 orang warga masih terjebak di Tengokrejo. Mereka adalah seorang Nenek bernama Widi dan seorang pria bernama Gandung.

"Jadi saya dan beberapa orang lain naik ke atas. Ada juga beberapa alat berat untuk membantu membuka jalan yang tertimpa pohon tumbang," kisahnya.

Sampai di rumah Mbah Widi, Dwi mencoba membujuk nenek itu agar mau turun. Namun wanita berusia 60 tahun itu ngotot tidak mau turun.

"Demi keselamatan saya gendong saja. Tahunya Mbah Widi malah menggigit lengan kiri saya," ujar anggota Grup II Kopassus ini.

Selama dievakuasi dari Tengokrejo ke Posko Umbulharjo, Widi terus menggigit anggota Korp Baret Merah ini. Padahal waktu tempuhnya selama 1 jam. Demi keselamatan sang mbah, Andi mengaku hanya bisa pasrah.

"Ya, demi keselamatan tidak apa-apa," akunya.

(rdf/rdf)

Selasa, 19 Oktober 2010

suli diSe(U)L(I)amatkan

ICW Desak Satgas Selidiki Kasus Sumalindo
JUM'AT, 22 OKTOBER 2010 | 06:26 WIB

PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk. TEMPO/Firman Hidayat

TEMPO Interaktif, Jakarta -Indonesia Corruption Watch mendesak Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum memeriksa kembali kasus PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk. "Kasus ini merupakan ujian bagi Satgas dalam menyelesaikan kasus yang disebut-sebut terkait dengan kerabat Istana," kata Wakil Koordinator ICW Emerson Yuntho kepada Tempo kemarin.

Polisi menuduh Sumalindo menjadi penadah 3.000 meter kubik kayu hasil pembalakan liar di Kalimantan Timur. Kepolisian menahan Presiden Direktur Sumalindo Amir Sunarko dan wakilnya, David, pada Mei lalu. Tapi kejaksaan kemudian menangguhkan penahanan Amir dan David pada 17 September.

Penelusuran majalah Tempo menemukan adanya keterlibatan kakak ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wijiasih Cahyasasi alias Wiwiek, dalam upaya penangguhan penahanan kedua tersangka. Wiwiek menemui sejumlah pejabat untuk menanyakan penahanan Amir. Kakak sulung Ani Yudhoyono ini mengaku pernah mendatangi Kepala Kepolisian Daerah Inspektur Jenderal Mathius Salempang dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

Secara resmi PT Sumalindo juga mengirimkan surat kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan serta Menteri Kehutanan. Bahkan Kantor Menteri Koordinator Politik menggelar rapat koordinasi terbatas pada 8 September lalu. Rapat ini antara lain menyimpulkan penahanan dua bos Sumalindo itu berdampak buruk terhadap iklim investasi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto menyatakan pihaknya tidak pernah memberikan surat jaminan kepada kejaksaan agar menangguhkan penahanan Amir dan David. "Bukan surat jaminan, tapi surat keterangan kinerja Sumalindo," ujar Hadi kepada Tempo kemarin.

Berkaitan dengan surat lain Kementerian Kehutanan Nomor S.921/Vi-SET/2010 kepada Sumalindo, menurut Hadi, surat ini justru menegaskan agar perusahaan itulah yang seharusnya memberikan jaminan penangguhan penahanan, dan bukan Kementerian Kehutanan.

Kendati begitu, Emerson Yuntho menyayangkan langkah Kementerian mengeluarkan surat
kinerja Sumalindo. "Saat itu proses hukum masih berjalan. Apakah Kementerian melakukan hal serupa untuk kasus lain?" ujar dia.

DANANG WIBOWO | EVANA DEWI
18 OKTOBER 2010
Lobi Kayu Lingkar Istana


TAMU itu datang menjelang petang, beberapa hari sebelum bulan puasa lalu. Inspektur Jenderal Mathius Salempang menerimanya di rumah dinas Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Jalan Sudirman, Balikpapan. "Ia mengenalkan diri sebagai Basuki," kata orang dekat Mathius kepada Tempo.

Mathius biasa menerima tamu di rumah dinasnya. Tapi tamu sore itu sungguh istimewa. Sang tamu mengaku membawa pesan dari lingkaran dekat Istana: dialah Wijiasih Cahyasasi alias Wiwiek, kakak ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepada Mathius, menurut sumber itu, Basuki meminta "bantuan" agar kasus dugaan pembalakan liar yang menjerat petinggi PT Sumalindo Lestari Jaya "diselesaikan".

Sekitar tiga bulan sebelumnya, Kepolisian Sektor Sebulu, Kutai Kartanegara, menangkap empat pemasok kayu buat Sumalindo. Mereka dituduh mengalirkan kayu ilegal sekitar 3.000 batang di Sungai Mahakam ke penampungan perusahaan itu. Karena pengiriman kayu didasarkan atas perjanjian yang diteken Presiden Direktur Amir Sunarko dan wakilnya, David, dua orang itu pun terseret. Pada Juni lalu, polisi menahan mereka (lihat "Terantuk Meranti di Bawah Air").

Kepada orang-orang dekatnya, Mathius menceritakan, sore itu ia segera berdiri dan mengajak tamunya bersalaman-mengusir secara halus. Ia mengatakan, "Terima kasih, saya akan membicarakannya dengan Kepala Polri." Tamunya menyorongkan kartu nama dan segera berpamitan.

Dua pekan lebih melacak identitas Basuki, Tempo menemukan titik terang, pekan lalu. Ia bukan "pembawa pesan" sembarangan. Pernah menjadi Wakil Presiden A1 Grand Prix Indonesia-balap mobil yang dibuat untuk menyaingi Formula 1-ia kini menjadi perwakilan Syekh Maktoum, juragan tajir asal Uni Emirat Arab. "Saya dari dulu membantu Ibu Wiwiek," kata Basuki, yang menemui Tempo di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Senin pekan lalu.

Basuki mengaku menemui Salempang sekitar 10 menit. Ia menyangkal telah "diusir". Menurut dia, ia buru-buru pulang karena mengejar penerbangan terakhir menuju Jakarta. "Saya mengajukan permohonan penangguhan penahanan Amir dan David kepada Kepala Polda," katanya. "Mereka diperlukan ribuan karyawan karena saat itu menjelang Lebaran."

Menerima Tempo di kantor Sumalindo, kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu, Wijiasih pun membenarkan ketika itu memerintahkan Basuki buat menemui Salempang. "Saya ingin tahu duduk masalah yang sebenarnya agar tidak salah persepsi," katanya.

Dimintai konfirmasi, Mathius Salempang mengatakan mendukung penuh langkah anak buahnya. Soal adanya utusan kerabat Istana yang menemui untuk meminta penangguhan penahanan, Mathius tidak membantah. "Memang ada yang datang dan meminta itu," katanya.

Polisi tak menggubris kedatangan utusan Wijiasih. Amir dan David tetap dalam status tahanan. Sumalindo pun menggunakan jalur formal. Oto Hasibuan, kuasa hukum perusahaan itu, mengajukan penangguhan ke Kepolisian Resor Kutai. Kepala Kepolisian Resor Kutai Ajun Komisaris Besar Fadjar Abdillah mengatakan dua kali penasihat hukum Amir dan David mengajukan penangguhan penahanan. "Kami tolak karena kebijakan Polri untuk tidak memberikan penangguhan pada kasus illegal logging," ujarnya.

Angin berubah setelah Kepolisian Kutai Kartanegara menyerahkan berkas perkara ke kejaksaan Negeri Tenggarong, 17 September lalu. Pada hari proses penyerahan, Kejaksaan menyatakan tidak menahan Amir dan David dengan alasan sakit. "Ini alasan kemanusiaan," kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Tenggarong, Suroto. Amir dan David pun melenggang.

Empat hari setelah itu, Sumalindo menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa di Hotel Manhattan, Jakarta. Rapat tetap mendudukkan Amir dan David di posisi semula. Presiden Komisaris Ambran Sunarko mengundurkan diri. Lalu muncullah tokoh yang dianggap banyak membantu pembebasan Amir: Wijiasih Cahyasasi alias Wiwiek.
Lobi Kayu Lingkar Istana (2)


DUA pekan sebelum mengirim utusan menemui Mathius Salempang, Wiwiek sendiri yang mendatangi Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Pertemuan dilakukan di rumah dinas Kepala Kepolisian, Jalan Pattimura, Jakarta Selatan. "Ibu protes ke Kepala Polri, mengapa kasus kecil ini dipersoalkan sedemikian rupa," kata orang dekat Wiwiek.

Dalam pertemuan itu, menurut sumber yang lain, Bambang berjanji meminta keterangan lebih jauh tentang kasus Sumalindo. Wiwiek meminta bisa bertemu Salempang. Namun Bambang mengatakan tidak perlu dan berjanji membicarakannya dengan anak buahnya itu. Tapi tak pernah ada kabar dari Jenderal Bambang. Karena itu, Wiwiek mengutus Basuki ke Balikpapan buat menemui Salempang.

Sumber lain mengisahkan Salempang sebenarnya telah dipanggil Bambang untuk menjelaskan soal ini. Namun Salempang meyakinkan Kepala Kepolisian bahwa kasus Sumalindo sangat kuat. "Orang-orang yang membawa kayu sedikit saja ditangkap, masak yang ini mau dibebaskan," kata Salempang, seperti ditirukan sumber Tempo. "Nanti apa kata rakyat?"

Menurut sumber itu, Bambang, yang masa dinasnya menjelang akhir, memberikan lampu hijau kepada Salempang. Ia justru meminta berkas kasus ini segera diserahkan ke kejaksaan. "Agar kalau ditanya Bu Wiwiek lagi, dia bisa menjawab: kasusnya sekarang bukan di polisi lagi," kata sumber itu.

Wiwiek menolak memberikan konfirmasi tentang pertemuannya dengan Jenderal Bambang. "Silakan tanyakan ke Pak Bambang Hendarso Danuri. Terserah beliau akan menjawab apa," katanya. Bambang Hendarso belum bisa dimintai komentar. Adapun Wakil Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Ketut Yoga Ana mengaku tidak tahu soal itu. "Kasus itu sepenuhnya wewenang Polda Kalimantan Timur," katanya.

"Gerakan pembebasan" Amir dan David dilakukan simultan. Pada 27 Agustus 2010, Sumalindo mengirim surat ke Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, serta Kejaksaan Agung dan Kementerian Kehutanan. Lembaga-lembaga itu bergerak cepat. Pada 7 September, Sekretaris Menteri Koordinator Politik Hotma Mangaradja Panjaitan mengirim undangan ke sejumlah lembaga, termasuk Badan Intelijen Negara. Surat yang salinannya diperoleh Tempo itu mengundang pejabat lembaga itu buat rapat "Membahas Pengaduan Masyarakat Tentang Illegal Logging di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua", esok harinya.

Rapat itu dihadiri Direktur Jenderal Administrasi Hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, serta Direktur V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Selain itu, datang Deputi II Badan Intelijen Negara dan Wakil Asisten Teritorial Panglima Tentara Nasional Indonesia.

Sumber Tempo mengatakan, kendati tak khusus mencantumkan kasus Sumalindo, sepanjang rapat dibahas langkah hukum polisi terhadap perusahaan itu serta penahanan Amir dan David. Semua peserta rapat diberi kesempatan menyampaikan pendapat.

Opini para pejabat tercatat dalam notulensi yang sempat dibaca Tempo. Pertemuan itu menghasilkan kesimpulan, antara lain penahanan dua bos Sumalindo dinilai berdampak buruk terhadap iklim investasi. "Itu karena Sumalindo perusahaan terbuka," ujar sumber tadi.

Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto yang hadir dalam pertemuan itu membenarkan peserta rapat menyoroti penahanan dua petinggi Sumalindo. Apalagi, kata dia, penahanan dilakukan sebelum tuduhan perusahaan menampung kayu gelap dibuktikan. "Bagi kami clear, tidak ada pelanggaran yang dilakukan Sumalindo," katanya.

Lobi Kayu Lingkar Istana (3)


Direktur V Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Suhardi Aliyus, yang juga hadir dalam rapat itu, menolak berkomentar. "Kasus itu sepenuhnya ditangani Polda Kalimantan Timur. Tanya mereka saja," katanya.

Menteri Djoko membantah ada perlakuan khusus dalam rapat koordinasi terbatas itu. Menurut dia, kasus Sumalindo terkait dengan masalah hukum, sehingga dinilai perlu ada sinkronisasi antarlembaga. Tujuannya, agar semua cepat mendapat kepastian dan keadilan. "Tidak spesifik membahas kasus per kasus," katanya. "Rapat itu insidental dan biasa dilakukan."

Beberapa hari setelah rapat koordinasi, Direktorat V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal melakukan gelar perkara kasus Sumalindo. Sejumlah saksi ahli dari Kementerian Kehutanan diundang. "Hasil gelar perkara itu dinyatakan tidak ada pelanggaran pidana dalam kasus itu," kata sumber.

Ito, yang dihubungi Tempo pada Jumat pekan lalu, mengakui gelar perkara Sumalindo. Menurut dia, sejumlah saksi ahli dimintai pendapat tentang posisi hukum kasus tersebut. "Tapi saya tidak bisa buka kesimpulan rapat itu," ujarnya.

Wiwiek juga tidak tinggal diam. Ia menemui Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di kantornya. Ini bukan perkara sulit. Sebab, David bukan orang asing bagi Pak Menteri. "Dia itu anggota tim ahli saya," kata Zulkifli kepada Tempo.

Zulkifli pun dengan cepat memberikan surat jaminan kepada Kejaksaan Negeri Tenggarong agar penangguhan penahanan kedua petinggi Sumalindo bisa dilakukan. "Jaminan itu diberikan atas nama institusi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan," kata Hadi Daryanto.

Menteri Zulkifli mengulang pendahulunya, Malem Sambat Kaban, yang juga pasang badan ketika dua raksasa bubur kertas-PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk-berseteru dengan Kepolisian Daerah Riau. Ketika itu dua perusahaan tersebut dituduh merusak hutan alam dan menampung kayu ilegal. Tapi Kaban menyatakan dua perusahaan itu tak bersalah.

Surat jaminan yang diberikan Kementerian Kehutanan terbukti manjur. Ketika berkas tersangka Amir Sunarko dan David diputuskan lengkap oleh Kejaksaan Negeri Tenggarong pada 17 September lalu, mereka langsung menghirup udara bebas. Amir Sunarko tak perlu lagi bermalam di sel seperti saat menjalani proses penyidikan di kepolisian.

Sekretaris perusahaan Sumalindo, Hasnawiyah Kono, membantah permintaan penangguhan penahanan dua anggota direksi perusahaannya bermasalah. Menurut dia, pertemuan yang dilakukan Wijiasih dan para pejabat pemerintah "resmi dan terbuka". "Kami melakukan hal itu untuk menuntut keadilan," katanya.

WIWIEK bukan orang baru bagi keluarga Amir Sunarko. Tak mengherankan bila ia begitu bersemangat berusaha membebaskan Amir-juga David-dari tahanan.

Ayah Amir, Hasan Sunarko, adalah kongsi Sunarti, ibunda Wiwiek. Pada Februari 1995, Sunarti mendirikan PT Wanatirta Edhie Wibowo, yang menggarap bisnis perdagangan, pertambangan, dan perkebunan. Dalam akta pendirian perusahaan, Sunarti-istri Sarwo Edhie, yang kini dipanggil sebagai "Ibu Ageng"-menjadi salah satu pendiri yang menyetorkan modal Rp 100 juta. Ia menjadi direktur utama dan Wiwiek menjadi komisaris perusahaan. Perusahaan ini memperoleh konsesi lahan 206 ribu hektare di Kabupaten Mappi, Papua.

Hasan adalah nakhoda Grup Hasko, yang dikenal sebagai raja kayu lapis. Ia kemudian memasang putranya, Amir Sunarko, menjadi komisaris Wanatirta. Ketika keluarga Sunarko kemudian masuk ke PT Sumalindo, Wiwiek pun masuk perusahaan ini. Tapi ia tetap berada di belakang layar. Ia baru tampil setelah menjadi presiden komisaris perusahaan itu.

Ia masuk di tengah konflik keluarga Sunarko. Menurut sumber, Amir bersengketa dengan Deddy Hartawan Djamin, adik iparnya. Lingkaran Amir menuduh Deddy berada di balik huru-hara Sumalindo. Ia dianggap hendak mendongkel Amir dari posisi puncak perusahaan.

Pertikaian itu tampak dalam rapat umum pemegang saham luar biasa Sumalindo di Ruang Indiana, Hotel Manhattan, Jakarta, 21 September lalu. Rapat digelar buat membahas antara lain pembentukan tim ahli independen untuk meneliti keterlibatan Amir dan David dalam pembelian kayu hasil pembalakan liar serta perubahan susunan direksi dan komisaris.

Agustinus Dawarja, kuasa hukum yang ditunjuk Deddy Hartawan, pemilik 11,3 persen saham Sumalindo, mengakui kliennya mendesak pergantian Amir Sunarko dan David. Deddy pula yang menuntut pembentukan tim independen. "Di tangan mereka kinerja perseroan tak kunjung membaik," katanya. "Sumalindo merugi tapi induk usaha mereka di Singapura terus untung."

Agustinus membantah bahwa tuntutan itu berkaitan dengan konflik keluarga. Toh, sampai rapat usai, dua tuntutan Deddy tak dipenuhi peserta rapat.

Wijiasih juga menjadi Presiden Komisaris Sumalindo di tengah keuangan perusahaan yang tak cemerlang. Putra tertua Sarwo Edhie itu menganggapnya sebagai tantangan. Ia mengatakan, "Menjadi salah satu target saya untuk memperbaiki."

Budi Setyarso/Setri Yasra, Wahyu Dhyatmika (Jakarta), Firman Hidayat (Samarinda)

Raksasa Kayu dari Kalimantan


SUMALINDO Lestari Jaya bukan perusahaan sembarangan. Sampai tahun ini, perusahaan terbuka ini tercatat sebagai salah satu pemilik hutan tanaman industri dan pemegang hak pengusahaan hutan terbesar di negeri ini. Total mereka menguasai lebih dari 840 ribu hektare hutan alam dan 73 ribu hektare hutan tanaman industri (HTI).

Kapasitas produksi Sumalindo juga tak main-main. Mereka bisa memproduksi kayu lapis 1,1 juta meter kubik per tahun. Produknya menguasai lebih dari 30 persen pasar Indonesia. Di tingkat dunia, perusahaan ini bahkan termasuk lima besar produsen kayu. Jejaring bisnis mereka menggurita dari hulu sampai hilir.

Sayangnya, dalam tiga tahun terakhir, Sumalindo terus-menerus merugi. Krisis finansial global memaksa industri properti bertekuk lutut dan mendorong bisnis kayu lapis ke tubir jurang. Meski sudah menjual anak perusahaannya, Sumalindo Hutani Jaya, dan memperoleh pinjaman, belitan utang makin menggila. Pada Maret lalu, Sumalindo memutuskan kembali melakukan penawaran saham untuk meraup dana segar lebih dari Rp 120 miliar dari pasar modal.

Ada satu hal yang membuat Sumalindo tetap diincar meski dililit utang dan harga sahamnya terjun bebas dari Rp 4.800 pada 2007 menjadi sekitar Rp 150 saat ini. Sejumlah sumber Tempo menyebutkan ada kandungan batu bara berkalori tinggi di bawah lahan hutan yang dikuasai Sumalindo.

Pemilik Sumalindo adalah kongsi dua konglomerat: keluarga Sampoerna dan keluarga Sunarko. Sejak 1980-an, keluarga Sunarko sudah malang-melintang di bisnis kayu dengan bendera Hasko Group dan PT Buana Semesta Alam. Sedangkan Sampoerna baru masuk ke industri hutan tiga tahun lalu, lewat pembelian saham Samko Timber di bursa Singapura.

Belakangan baru ketahuan bahwa Sumalindo juga memiliki hubungan dengan salah satu kerabat keluarga Nyonya Ani Yudhoyono. Kakak tertua Ani, Wijiasih Cahyasasi, mewarisi kepemilikan saham orang tuanya di bisnis kayu ini. Pada September lalu, ia diangkat menjadi presiden komisaris perusahaan itu.

Wahyu Dhyatmika (Jakarta), Firman Hidayat (Kutai Kartanegara)

Terantuk Meranti di Bawah Air


SENJA baru beranjak gelap ketika telepon kantor penampungan kayu PT Sumalindo Lestari Jaya di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berdering. Jam pada Selasa, 11 Mei 2010, menunjuk pukul 19.00. Ahmad Abdul Gani, karyawan bagian penerimaan kayu, sedang berjaga. Dari ujung telepon, terdengar suara Sriyanto, kepala seksi legal perusahaan. "Kayu yang di dermaga jangan dibongkar dulu ya," penelepon memerintah. "Mau diperiksa dulu oleh Kapolsek."

Ahmad mengiyakan. Kepada polisi, seperti dikutip sumber Tempo, ia menyatakan meminta anak buahnya menghentikan pengangkatan kayu bulat dari dermaga pelabuhan kayu Sumalindo ke lapangan penampungan kayu perusahaannya. Ketika itu, sekitar 50 batang kayu telah berpindah tempat.

Ribuan batang kayu itu sudah mengapung di tepi Sungai Mahakam, masuk area dermaga Sumalindo, sejak sepekan sebelumnya. Dermaga itu-biasa disebut log pond-ada di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Yang tidak diketahui orang Sumalindo, polisi sudah lama mengintai kayu mereka. Sehari sebelumnya, Kepala Kepolisian Sektor Sebulu, Ajun Komisaris Dedy Anung Kurniawan, bahkan datang ke dermaga. Ia meminta dokumen surat keterangan asal-usul kayu dari pegawai Sumalindo. "Ada ketidakcocokan," katanya kepada penyidik kepolisian yang menangani kasus ini.

Jika merujuk pada dokumen asal-usul kayu yang dipegang Sumalindo, tumpukan kayu bulat yang diikat jadi empat rakit itu seharusnya hanya berupa kayu hasil kebun seperti kayu pete, jambon, asam kendis, sengon, dan ketapang. Jumlah totalnya pun seharusnya hanya 2.000 batang.

Temuan polisi di lapangan jauh berbeda. Di bawah susunan kayu sengon, penyidik menyatakan menemukan 3.000-an batang kayu meranti dan kayu rimba lain-jenis kayu yang dilarang diperjualbelikan. Semuanya tanpa dokumen resmi.

Polisi bertindak cepat. Sehari setelah meminta Sumalindo menghentikan pengangkutan kayu dari sungai, aparat keamanan menyita semua kayu di sana. Tempat penampungan dan dermaga pun langsung dipasangi garis polisi. Satu demi satu, karyawan yang mengurusi penerimaan kayu digiring ke kantor polisi untuk diperiksa.

Sepekan kemudian, pada akhir Mei, Dinas Kehutanan setempat diundang polisi untuk memeriksa ulang semua kayu yang dipesan Sumalindo. Hasil pemeriksaan mereka menguatkan tuduhan awal aparat keamanan: tak semua kayu yang dipesan Sumalindo adalah hasil kebun. Sebagian besar justru kayu meranti dan kayu rimba jenis lain.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Dinas Kehutanan itulah, polisi menuding Sumalindo menjadi penadah kayu hasil pembalakan liar. Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, petinggi Sumalindo terancam hukuman 10 tahun penjara.

Sebulan kemudian, pada 20 Juni, Polres Kutai Kartanegara mengirim tim untuk menjemput Presiden Direktur Sumalindo, Amir Sunarko, dan wakilnya, David, di Jakarta. Keduanya diundang ke Samarinda sebagai saksi. Namun status keduanya berubah dalam semalam.

"Sesuai dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas, jika ada masalah hukum, pimpinan perusahaan harus bertanggung jawab," kata Kepala Kepolisian Resor Kutai Ajun Komisaris Besar Fadjar Abdillah kepada Tempo, dua pekan lalu. Dinyatakan sebagai tersangka, keduanya langsung ditahan.

Terantuk Meranti di Bawah Air (2)


Fadjar yakin polisi memiliki bukti dan saksi yang cukup untuk memenangkan kasus ini di meja hijau. "Kami siap menghadirkan ahli hukum pidana, ahli hukum kehutanan, dan ahli hukum perseroan sebagai saksi ahli nanti di persidangan," katanya.

Bukti adanya kayu meranti dan kayu rimba lain-semuanya tanpa dokumen sah-yang disembunyikan di antara ribuan batang kayu bulat yang dipesan Sumalindo, menurut Fadjar, sulit dipatahkan.

Sumalindo menolak mentah-mentah tudingan polisi itu. "Kami sama sekali tidak berbuat kesalahan," kata Hasnawiyah Kono, Sekretaris Korporasi Sumalindo, pekan lalu. Alasannya, ribuan kayu bermasalah itu belum diserahterimakan ke perusahaan. "Transaksi belum terjadi," katanya.

Dalam keterangannya kepada penyidik, sejumlah karyawan Sumalindo mengaku tidak tahu-menahu soal keberadaan kayu meranti ilegal di balik kayu sengon yang mereka pesan. "Ketika itu kayu belum sempat dinaikkan semua. Jadi kami tidak tahu," kata Ahmad Yani, petugas penerimaan kayu Sumalindo, kepada penyidik.

Ketika kiriman kayu datang, kata Ahmad, hal pertama yang seharusnya dilakukan staf Sumalindo adalah memeriksa dokumen legalitas kayu bersama petugas Dinas Kehutanan. Setelah semua dokumen dinyatakan legal, barulah kayu-kayu bulat itu diangkat dari sungai dan dipindahkan ke lapangan penampungan untuk pemeriksaan fisik. Jika semua kayu dinyatakan tak bermasalah oleh petugas Dinas Kehutanan, barulah Sumalindo membuat berita acara serah-terima kayu.

Nah, dalam kasus ini, Sumalindo menuding polisi bertindak terlalu dini. Belum tuntas kayu diperiksa, polisi sudah menggerebek. "Karena itu, kami tidak bisa dipersalahkan terkait adanya kayu meranti itu," kata Hasnawiyah Kono.

Hasnawiyah juga berulang kali menegaskan bahwa penyalur kayulah yang bertanggung jawab memastikan legalitas kayu. "Dalam dokumen surat perjanjian jual-beli kayu bulat yang dibuat Sumalindo, ada klausul itu," katanya.

Ketika diperiksa polisi, Presiden Direktur Sumalindo Amir Sunarko menolak bertanggung jawab atas kiriman kayu meranti ilegal ini. Apalagi perjanjian jual-beli kayu antara Sumalindo dan pengirim kayu meranti itu sudah berakhir pada Maret 2010. Artinya, ketika pengiriman dilakukan pada awal Mei, perjanjian itu sudah kedaluwarsa. "Seharusnya kayu itu ditolak masuk," katanya.

Pengirim kayu yang dimaksud adalah Soni Iwan Purboyo. Dia pemain baru dalam bisnis pengiriman kayu di Kutai. Sebelumnya, Soni tinggal di Semarang. Dia baru pindah ke Samarinda pada Januari 2010 dan langsung mendapat kontrak pengiriman kayu 3.000 meter kubik ke Sumalindo. "Sampai Maret, saya tidak dapat kayu, padahal Sumalindo menagih terus," katanya kepada polisi.

Soni mengaku juga tertipu. "Saya tidak tahu kalau ada kayu meranti," katanya. Ia mengatakan membeli semua kayu pesanan Sumalindo dari dua pengusaha kayu lokal bernama Zulkifli dan Saiful Bahri. "Saya tidak memeriksa lagi, apakah semuanya sengon atau ada kayu lain," katanya.

Walhasil, kini semua pihak saling menuding.

Pertanyaannya: siapa sumber informasi polisi yang memastikan ada kiriman kayu meranti ilegal untuk Sumalindo? Sumber Tempo menyebutkan, pembisik polisi adalah seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat lokal bernama Ujang S. Sudarno. Lembaganya bernama Pusat Pengamat Umum, Sosial, dan Hak Asasi Manusia, disingkat Puspaham.

Ketika dihubungi, Ujang membenarkan. "Ketika rakit kayu itu bergerak di Sungai Mahakam, saya langsung memberi tahu Kapolri, Kapolda, dan Kapolres," katanya. Tapi, dari mana dia tahu ada kiriman kayu liar untuk Sumalindo? "Saya punya jaringan intelijen yang luas," katanya. Ketika dimintai konfirmasi, Ajun Komisaris Besar Fadjar Abdillah tak mau berkomentar banyak. "Info awalnya dari laporan masyarakat," katanya.

Kalangan dalam Sumalindo menduga, info awal polisi justru berasal dari dalam perusahaan sendiri. Indikasinya, tiga bulan setelah kasus ini, sebagian pemegang saham Sumalindo mendesak diadakan rapat umum pemegang saham luar biasa. Agendanya, mengganti pucuk pimpinan perusahaan.

Wahyu Dhyatmika, Firman Hidayat (Kutai Kartanegara)

Pucuk Bisnis Anak Papi


TARI pendet disuguhkan di hadapan tetamu di Namsan Hill, Seoul, Korea Selatan. Dua gadis berambut panjang menarikannya. Mereka adalah Kristiani Herrawati-kini istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-dan adiknya, Mastuti Rahayu, yang kini istri mantan Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Oetomo.

Keduanya menari di resepsi pernikahan kakak sulung mereka, Wijiasih Cahyasasi, dengan Chairil Irwan Siregar. Sarwo Edhie Wibowo, ayah mereka, adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan ketika itu. Nyonya Ani Yudhoyono menceritakan hajatan 36 tahun lalu itu di buku Kepak Sayap Putri Prajurit. "Papi tidak bisa cuti, jadi akhirnya bersepakat dengan keluarga calon suami menggelar pernikahan di Seoul," kata Ani dalam bukunya yang diluncurkan pada Juli lalu itu.

Mbak Wiwiek, begitu perempuan kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 60 tahun lalu ini biasa disapa adik-adiknya. Anak tertua pasangan Sarwo Edhie dan Sunarti Sri Hadiyah ini sempat jadi tumpuan adik-adiknya. Dialah yang mengantar mereka sekolah sebelum berangkat ke kampusnya di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat.

Pada banyak momen saat keluarga Sarwo Edhie bicara kepada publik, Wiwiek didapuk jadi juru bicara. Itu yang terjadi ketika mereka berziarah ke makam Sarwo Edhie di Purworejo, Jawa Tengah, tak lama setelah kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden 2004. Kepada pers ketika itu, Wiwiek mengatakan, "Keluarga ikut jadi tim sukses, tapi setelah menang tidak ada komitmen khusus SBY untuk keluarga."

Sementara adik dan iparnya banyak berkecimpung di dunia militer dan politik, Wiwiek dan suaminya memilih berbisnis. Beberapa sumber Tempo mengatakan, Wiwiek bahkan dijadikan komandan bisnis keluarga Sarwo Edhie. "Saya memang satu-satunya di keluarga yang masuk bisnis," kata Wiwiek kepada Tempo.

Pada Februari 1995, keluarga ini mendirikan PT Wanatirta Edhie Wibowo, yang menggarap bisnis perdagangan, pertambangan, dan perkebunan. Dalam akta pendirian perusahaan, Sunarti menjadi salah satu pendiri yang menyetorkan modal Rp 100 juta. Sunarti menjadi direktur utama, sementara Wiwiek jadi komisaris perusahaan. Perusahaan ini memperoleh konsesi lahan 206 ribu hektare di Kabupaten Mappi, Papua.

Seseorang di lingkaran Sumalindo mengatakan, melalui perusahaan inilah Wiwiek mulai dekat dengan keluarga Sunarko. "Perusahaan Wanatirta itu kongsi Sunarti dengan Hasan Sunarko," ujarnya. Hasan adalah nakhoda Grup Hasko, yang dikenal sebagai raja kayu lapis. Sejak 1995, Hasan memasang putranya, Amir Sunarko, menjadi komisaris di Wanatirta.

Pada 2008, Wanatirta disemprit Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban. Tiga kali disurati karena tak kunjung melayangkan rencana kerja tahunan, Kaban mencabut hak pengusahaan hutan Wanatirta di Mappi. Selain berbisnis kayu, Wiwiek punya usaha di sektor energi. "Namanya sering disebut kalau ada tender di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral," kata seorang politikus di Dewan Perwakilan Rakyat.

Sang suami, Irwan Siregar, juga melebarkan sayap bisnis keluarga ke usaha tambang batu bara. Tiga tahun lalu, Irwan diberitakan menemui Bupati Tapanuli Tengah Tuani Lumbantobing buat menjajaki penambangan batu bara lewat bendera CV Arjuna. Perusahaan ini rencananya jadi pemasok untuk pembangkit listrik tenaga air milik PT Bukaka milik keluarga mantan wakil presiden Jusuf Kalla.

Irwan juga tercantum sebagai Komisaris Utama PT Sentra Artha Utama. Perusahaan investasi ini menyeret bekas Bupati Situbondo Ismunarso, yang dituduh melakukan korupsi. Duit Rp 50 miliar dari kas daerah ditanamkan Ismunarso ke Sentra Artha dan ia menyimpan sendiri keuntungan investasi yang mencapai Rp 1,1 miliar.

Menurut Direktur Regional Sentra Artha Halim Sunaryadi saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, nama Irwan dipakai untuk meyakinkan calon nasabah seperti Ismunarso. "Waktu pertemuan dengan nasabah dibilang Pak Chairil adalah keluarga dekat RI-1," ujarnya. Ismunarso dan Direktur Utama Sentra Artha Nursetyadi Pamungkas dibui, sedangkan Irwan tidak. "Bapak sudah dimintai keterangan oleh polisi tapi tidak terbukti terlibat," kata Wiwiek.

Gagal di Papua, Wiwiek tak kapok berbinis kayu dengan Amir Sunarko. Ketika keluarga Sunarko masuk ke PT Sumalindo Lestari Jaya, Wiwiek pun bergabung. Bursa Efek Indonesia mencatat Wiwiek punya saham 1,21 persen di perusahaan itu. Meski pemilik saham minor, akhir September lalu Wiwiek terpilih dengan suara mayoritas untuk menjadi Presiden Komisaris Sumalindo. "Karena saya nilai itu baik, saya bersedia," katanya.

Oktamandjaya Wiguna

Wijiasih Cahyasasi: Saya Tak Melakukan Intervensi


BISNIS kayu sedang lesu, Wijiasih Cahyasasi justru tampil menjadi Presiden Komisaris PT Sumalindo Lestari Jaya. Perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan terluas ini tak sedang moncer. Neraca keuangan hampir selalu minus pada lima tahun terakhir. Masalah semakin besar setelah Presiden Direktur Amir Sunarko dan wakilnya, David, ditahan polisi sejak Juni lalu.

Kakak tertua Nyonya Ani Yudhoyono itu menggunakan aneka jalur buat membebaskan keduanya. Ia mengirim utusan buat menemui Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. Ia pun menemui Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Lalu Sumalindo menyurati Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan serta Kejaksaan Agung buat memohon "perlindungan hukum".

Sabtu pagi pekan lalu, perempuan 60 tahun yang sering dipanggil Wiwiek itu menerima Budi Setyarso, Setri Yasra, dan Oktamandjaya Wiguna dari Tempo untuk wawancara. Ia didampingi antara lain oleh David dan Basuki Wijaya Kusuma, utusan yang dikirim ke Kepala Polda Kalimantan Timur.



Sumalindo dituduh polisi menjadi penadah kayu ilegal....
Sumalindo, sebagai perusahaan terbuka, tak akan mau mengambil kayu yang tak sah. Dalam kasus ini, kayu belum kami terima, transaksi belum terjadi. Lagi pula, perjanjian dengan pemasok sudah kedaluwarsa. Bagaimana bisa disebut penadah? Saya melihat ada hal yang janggal.



Apa kejanggalan itu?
Kayu seharusnya diperiksa Dinas Kehutanan. Setelah dinyatakan tidak bermasalah, baru Sumalindo boleh membeli. Dalam kasus ini kayu belum diperiksa. Baru diangkat sebagian, tahu-tahu sudah dipasang police line. Makanya saya tergerak untuk membantu.



Kenapa Anda perlu turun tangan?
Kami sudah berkawan lama. Saya sudah lama bersama-sama dengan keluarga Hasan Sunarko, ayah Amir. Sejak 1995, kami melakukan kerja sama mengelola hak pengusahaan hutan di Irian Jaya. Saat Pak Amir ditahan, perusahaan harus memberikan tunjangan hari raya buat ribuan karyawan.



Benarkah Anda menemui Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri?
Silakan tanyakan ke Pak Bambang Hendarso Danuri. Terserah beliau akan menjawab apa.



Anda mengirim utusan menemui Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur?
Sumalindo sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Tapi saya ingin mengetahui kejadian sesungguhnya agar tidak ada salah persepsi. Pak Basuki membantu saya dalam segala keperluan. Dia bukan orang Sumalindo. Dia ke sana untuk saya, supaya saya punya kejelasan.



Anda mengintervensi kasus ini?
Kalau saya intervensi, pasti Pak Amir sudah bebas dalam satu-dua hari. Saya tidak melakukan intervensi. Semuanya sesuai jalur hukum.



Polisi bisa saja terintimidasi oleh Anda yang masih kerabat Presiden Yudhoyono?
Pak Basuki hanya menanyakan bagaimana kemungkinannya. Secara proporsional. Tidak boleh lebih dari itu, tidak boleh ada intervensi. Masak kepolisian bisa diintervensi oleh Basuki, saya pikir itu tidak masuk akal. Dalam proses mencari kebenaran, apakah saya salah melakukan itu? Saya pikir itu hal yang wajar.



Anda menyurati Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan?
Sumalindo yang mengirim surat, bukan saya.



Kementerian segera menggelar rapat untuk membahas kasus ini....
Saya pikir tidak mungkin mereka melakukan itu hanya karena saya. Mereka melihat ada ketidakbenaran. Tidak mungkin tertekan oleh saya.



Anda juga menemui Menteri Zulkifli Hasan?
Saya memang bertemu Zulkifli Hasan tapi sebatas diskusi. Kami tanya Kementerian Kehutanan soal kasus ini-prosesnya benar atau tidak, salah atau tidak. Saya harus tahu itu.



Anda juga menyurati Kejaksaan Agung?
Iya, tetap memohon perlindungan hukum.



Setelah Kejaksaan membebaskan Amir Sunarko dan David, Anda mendadak jadi Presiden Komisaris Sumalindo?
Saya terpilih berdasarkan rapat umum pemegang saham luar biasa. Saya diajukan pemegang saham sebuah perusahaan di Singapura dan mendapat suara mayoritas. Menang mutlak 99 persen lebih. Itu voting terbuka.



Pemegang saham mana yang Anda wakili?
Saya diajukan pemegang saham kemudian voting dan saya menang. Itu saja. Jadi saya tidak tahu pemegang sahamnya siapa saja karena ini perusahaan terbuka.



Apakah Anda diusulkan keluarga Sampoerna yang juga pemegang saham?
Tidak. Saya belum ada hubungan bisnis dengan Sampoerna, hanya sebatas sama-sama pemilik saham di Sumalindo.



Anda menjadi komisaris karena kerabat Presiden?
Saya kan dari dulu berbisnis. Kebetulan saya di keluarga itu satu-satunya yang berbisnis. Dari dulu saya memang begini, saya heran kalau dikait-kaitkan.



Performa Sumalindo akhir-akhir ini kurang bagus. Pendapat Anda?
Mungkin direksi yang lebih tepat menjawab itu. Ya, mungkin itu jadi salah satu target untuk saya perbaiki.

Sabtu, 16 Oktober 2010

nkri adalah NEGARA kebangsaan (kebanggaan) REPUBLIK INDONESIA

ROMO FRANZ MAGNIS-SUSENO SJ
Indikasi Kehancuran Indonesia
Minggu, 17 Oktober 2010 | 03:47 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com - Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.
"Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain," katanya ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Partai Golkar (PG), di Jakarta, Sabtu (16/10/2010) malam.

Seminar bertajuk "Penataan Sistem Politik untuk Memperkokoh Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia" ini digelar guna menyemarakkan HUT ke-46 partai berlambang pohon beringin tersebut, yang berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat. Di hadapan lebih 200 peserta dari berbagai latar, baik itu kalangan muda maupun politisi senior, Romo Franz Magnis-Suseno mengawali pemaparannya berjudul "Indonesia dan Nasionalismenya" dengan mengulas Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.

"Di sana Bung Karno menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Soekarno tahu mengapa," ujarnya. Yakni, lanjutnya, hanya karena kesadaran "kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia", sehingga masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.

"Tegasnya, bagi Bung Karno, Nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia". Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun," ujarnya.

Sekarang, menurutnya, setelah 65 tahun kemudian, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? "Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila," katanya.

Dan bagi Romo Franz Magnis-Suseno, "hanya karena kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada".

Selain Romo Franz Magnis-Suseno, juga tampil antara lain cendikiawan muslim Azyumardi Azra (dengan makalahnya "Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Dinamika Hubungan Antar Masyarakat dan Negara"), Letjen TNI Pur Agus Widjojo (dengan makalah "Masalah Pertahanan dalam Era Nasionalisme Modern"), Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Dr Valina Singka Subekti, MSi ("Aspek-aspek Perbaikan Sistem Politik Indonesia") dan Dr Pratikno dari UGM ("Memperdalam Demokrsi, Mengefektifkan Pemerintahan").

"Kegiatan ini merupakan salah satu agenda utama HUT, selain Rapimnas Pertama," kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Theo L Sambuaga, usai mendampingi Ketua Umum DPP PG, Aburizal Bakrie membuka resmi rangkaian perayaan hari jadi partai Golkar.
Editor: Jimmy Hitipeuw | Sumber :antara