Sabtu, 25 September 2010

komik anti radikalisme

Menekan Radikalisme dengan Komik
Sabtu, 25 September 2010 | 17:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com--Ada banyak cara untuk meniadakan atau setidaknya melembutkan radikalisme Islam dan menangkal propaganda teror dari mereka yang memanipulasi agama untuk memaksakan kehendaknya. Salah satunya adalah seperti yang ditempuh LSM Lazuardi Birru, menerbitkan komik berjudul "Ketika Nurani Bicara."
Cerita bergambar setebal 130 halaman ini diangkat dari keprihatinan atas peristiwa teror bom di Bali, lazim dikenal dengan Bom Bali I, pada 12 oktober 2002.
Untuk sampai menjadi sebuah komik menarik ini, tim Lazuardi Birru mengadakan riset selama dua tahun dan mewawancarai tiga figur yang kemudian menjadi tokoh dalam komik tersebut.
Ketiganya adalah Ali Imron (pelaku Bom Bali), H. Bambang Priyanto (relawan) dan Hayati Eka laksmi (istri salah seorang korban meninggal Bom Bali).
Tidak cukup dengan itu tim juga menggelar observasi ke beberapa daerah yang dianggap penting, seperti Lamongan, Gresik, Surabaya, Bali dan tentu saja ke penjara di mana para radikal pelaku teror dibui.
Setelah itu mereka menyusun karakter tokoh dalam cerita, termasuk karakter cerita itu sendiri. Menurut Lazuardi Birru, komik ini berupaya memberi gambaran kepada generasi muda, bahwa terorisme memberikan luka dan prahara kepada negara.
Mereka juga ingin berpesan kepada anak-anak bangsa untuk senantiass mawas diri dan berlindung dari ideologi-ideologi teror yang terus saja mengendap-endap membidik anak-anak negeri ini.
Salah satu yang menarik dari komik ini adalah pesan perdamaian yang terungkap dari hati nurani pelaku teror bom sendiri, Ali Imron.
Ali Imron ternyata menyesali perbuatannya. Dia bahkan bersimpati pada keluarga-keluarga korban dan relawan yang turun para korban teror Bom Bali I.
Tiga tokoh
Cerita diawali dari pengenalan para tokohnya di halaman pertama; Ali imron (Ale), Haji Bambang dan Hayati Eka Laksmi (Hayati). Di bagian ini terselip pula ilustrasi Jalan Legian di Kuta pada 12 oktober 2002 dan lokasi pemboman, Sari Club dan Paddys kafe.
Cerita dan ilustrasi gambarnya sangat berkronologi sehingga mudah untuk diikuti penikmatunya, karena selain gambar yang sepenuhnya berwarna dan menarik, juga dilengkapi rangkaian teks yang menjelaskan situasi atau gambar yang ditampilkan.
Dalam komik itu, Ali Imron bertutur mengenai keterlibatannya dalam gerakan terorisme dan serangan bom, keraguannya dalam melakukan teror, dan akhirnya berbuah penyesalan tiada akhir darinya.
Sementara Bambang Priyanto mengungkapkan kepedulian para relawan dalam menolong korban tanpa memandang agama. Terkhir, Hayati, ibu dua anak, bercerita tentang perjuangan hidup dan kegigihannya untuk bangkit menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami yang meninggal karena Bom Bali I.
Ketiga tokoh utama komik ini mengungkapkan nuraninya untuk disampaikan kepada generasi muda demi Indonesia damai.
Pesan Ali Imron
Yang termenarik dari komik mungkin adalah pengakuan pelaku tero bom, Ali Imron, bahwa dia telah salah menafsirkan seruan agama dan mengaku bersalah telah membunuhi orang-orang yang tak berdosa, sekaligus mewariskan nestapa kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban bom.
Dari rekaman video yang dibuat tim Lazuardi birru, Ale atau Ali Imron, mengutarakan tiga pesan penting dari lima pesannya dari penjara mengenai jihad dan nuraninya yang menentang teror, dan kekerasan.
Pesan pertama berbunyi, "Saya harap keinginan saya bisa sampai ke masyarakat, untuk mencegah kekerasan."
Kedua, masih dalam tuturan langsung Ali, "Semoga komik ini bisa mengingatkan kawan-kawan di kelompok saya dulu bahwa masih banyak cara untuk melakukan jihad. Agar mereka berpikir bahwa jihad bisa dilakukan tanpa harus melakukan aksi kekerasan."
Lalu pesan ketiga, yang ada baiknya dieksploitasi negara untuk meredam terorisme dan radikalisme, bahwa (komik) ini bertujuan memberitahukan sedini mungkin (kepada generasi muda) agar tidak cepat terpengaruh pihak tertentu, hanya karena dasar emosional semata.
Dyah Madya Ruth, Ketua LSM Lazuardi Birru, menyebut komik ini sebagai esensi jihad, yang dipahami berbeda para penafsirnya.
Komik ini sendiri mengilustrasikan setidaknya empat pemahaman jihad yang diaplikasikan berbeda oleh orang-orang yang justru berkeyakinan sama, Islam.
Yaitu antara jihad ala Ali Imron yang melakukan aksi teror, lalu jihad kedua Ali yang berusaha menata dirinya kembali yang diprologi oleh pengakuan bersalahnya atas aksi teror yang dilakukannya.
Kermudian jihad gaya 'Pak Haji Bambang yang membantu korban Bom Bali tanpa mengenal batas ras dan agama.
Terakhir, jihad Ibu Hayati yang balik sediakala menjadi tulang punggung keluarga setelah nyawa suami terenggut teror bom.

keterbatasan pikiran manusia, sebuah pengakuan

25/09/2010 - 14:30
Penemuan Ilmiah Mencapai Titik Akhir?
Ellyzar Zachra PB


(telegraph.co.uk)
INILAH.COM, Jakarta- Ilmuwan memperkirakan penemuan ilmiah akan segera berakhir. Ini diakibatkan terbatasnya pikiran manusia sehingga tidak mungkin terjadi terobosan baru.

Para ahli menilai pengetahuan ilmiah, seperti hukum pergerakan dan gravitasi, merupakan metode sederhana dalam memahami alam semesta. Oleh karena itu, ini hanya menyebabkan tingginya masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmuwan modern.

Di sisi lain, area ilmiah yang belum dipetakan oleh ilmu saat ini begitu rumit. Bahkan, pemikiran terhebat pun perlu perjuangan besar dalam memajukan pemahaman manusia soal dunia.

Tidak hanya itu, masalah yang tersisa saat ini sangat jauh dari jangkauan indera alamiah manusia sehingga dibutuhkan perangkat yang jauh lebih hebat, Large Hadron Collider misalnya.

Profesor fisika di Universitas Terbuka Russell Stannard berpendapat, meskipun pengetahuan ilmiah dapat diterapkan di cara yang terbuka, memperoleh pengetahuan soal hukum dasar alam dan konstituen dunia akan segera berakhir.

“Kita hidup di masa ilmiah di mana periode tersebut akan segera berakhir pada tahap tertentu. Ini bukan terjadi saat kita berhasil menemukan segalanya soal dunia, namun saat di mana kita menemukan apapun yang terbuka untuk kita pahami.”

Dalam buku terbarunya, The End of Discovery, Profesor Stannard berpendapat bahwa mesin yang lebih kuat dan besar tidak praktis untuk diterapkan dalam pencarian terobosan terbaru. Teori Stephen Hawking M-Theory secara sempurna menjelaskan soal isi alam yang tidak dapat diuji tanpa akselerator partikel yang berukuran seperti galaksi.[ito]

Selasa, 21 September 2010

skandal demi skandal @GEREJA

VATICAN CITY, Sept 21, 2010 (AFP)
The Vatican on Tuesday said it was "perplexed and astonished" after Rome prosecutors placed the head of its bank under investigation for violating money laundering legislation.

"The Holy See wants to express the maximum confidence in the president and the chief executive" of the Istituto per le Opere di Religione (IOR), the bank's official name, the Vatican said in a statement.

Both President Ettore Gotti Tedeschi and Chief Executive Paolo Cipriani are accused of violating legislation that requires banks to disclose information on financial operations.

The Vatican said it was committed to transparency and that information on these operations was already in the hands of the Bank of Italy.

Financial police also seized 23 million euros (30 million dollars) temporarily from the IOR's account in another bank, Credito Artigiano, ANSA said.

The IOR manages bank accounts for religious orders and Catholic associations and benefits from Vatican offshore status.

In September 2009 the IOR nominated Gotti Tedeschi, Spanish banking giant Santander's representative in Italy, as its new head.

The appointment was greeted at the time as a move towards greater transparency at the IOR.

US archbishop Paul Marcinkus headed the bank in 1971-1989 when it was caught up in scandals including the collapse of the private Italian bank, Banco Ambrosiano in 1982 amid accusations of links to organised crime and political "terrorism".

Minggu, 19 September 2010

kedekatan sang calon

Istana Enggan Komentari Isu Imam Besan Aulia Pohan
SELASA, 21 SEPTEMBER 2010 | 15:36 WIB
TEMPO/Panca Syurkani

TEMPO Interaktif, Jakarta - Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha enggan mengomentari isu yang menyebutkan kalau calon Kepala Polri Komisaris Jenderal Imam Sudjarwo adalah besan Aulia Pohan. "Saya tidak mengomentari soal yang anda tanyakan," kata Julian ketika ditanya apakah benar Imam adalah besan Aulia Pohan, di Istana Merdeka, Selasa (21/09).

Imam Sudjarwo disebut-sebut sebagai kandidat terkuat pengganti Kepala Polri Bambang Hendarso Danuri. Ia baru saja dinaikkan pangkatnya dari Inspektur Jenderal menjadi Komisaris Jenderal.

Calon kuat lainnya yaitu Komisaris Jenderal Nanan Sukarna. Nama keduanya kini telah dikantongi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini diakui Julian. "Yang diajukan oleh Kapolri (ke Presiden) kan dua nama, Pak Nanan dan Pak Imam," kata Julian.

Salah satu dari dua nama itu akan dikirim Presiden ke DPR untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan. Perihal Presiden hanya akan mengirim satu nama ke DPR ini diungkapkan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Julian mengatakan nama pilihan Presiden tersebut akan dikirim dalam waktu dekat. Kemungkinan pekan ini nama itu sudah dilayangkan ke DPR. Namun Julian enggan menjelaskan apakah satu dari dua nama itu ada hubungan keluarga dengan Presiden.

Aulia Pohan, seperti diketahui, adalah besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Anisa Pohan, putri Aulia Pohan, menikah dengan Agus Harimurti, putra sulung Presiden Yudhoyono.

Julian, meski ditanya beberapa kali mengenai apa benar Imam Sudjarwo adalah besan Aulia Pohan, hanya menjawab calon Kepala Polri harus memiliki profesionalitas dan kredibilitas. "Intinya apapun yang nanti dipilih tentu yang terbaik dalam pandangan Presiden," katanya.

DWI RIYANTO AGUSTIAR
20/09/2010 - 05:03
Bursa Calon Kapolri
'Pak Imam Sudjarwo Masih Besannya Aulia Pohan'
MA Hailuki

INILAH.COM, Jakarta - Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Pol Imam Sudjarwo dikabarkan masih kerabat Cikeas.

Menurut anggota Komisi III DPR Syarifuddin Sudding, Imam Sudjarwo merupakan salah satu besan Aulia Pohan yang tak lain besan Presiden SBY.

"Saya dapat informasi seperti itu, Pak Imam ini masih besannya Pak Aulia Pohan," ujar Sudding kepada INILAH.COM, Senin (20/9).

Sudding mengakui mendapatkan informasi tersebut bukan langsung dari Imam Sudjarwo, melainkan dari para koleganya.

"Saya hanya mendengar saja, perlu diselidiki lebih lanjut karena ini hal yang sensitif," ujar Sudding.

Jika benar Imam Sudjarwo adalah besan Aulia Pohan maka sangat wajar jika muncul kecurigaan adanya nepotisme di balik pencalonan Imam sebagai calon Kapolri.

"Wajar publik curiga, karena Pak Imam terlalu dikatrol. Karena lembaganya baru dinaikkan levelnya kemarin, jadi Pak Imam baru mau dinaikan jadi bintang tiga kok langsung jadi Kapolri," ujar Sudding.

Sekadar diketahui, Imam Sudjarwo adalah lulusan angkatan 1980. Tak seperti Komjen Nanan Soekarna yang telah banyak pengalaman jabatan strategis di Polri, Imam hanya memiliki banyak pengalaman di Kesatuan Brigade Mobil (Mobil).

Imam menjabat Kabid Ops Korbrimob Polri tahun 2002, Danmen IV Korbrimob Polri tahun 2001, Kasat I Gegana Korbrimob Polri tahun 2003, Kakortapsis Dit Bintarlat Akpol tahun 2004, Kapolda Bangka Belitung tahun 2005, Waka Korbrimob Polri tahun 2008, Ka Korbrimob Polri tahun 2009, dan kini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri. [mah]

Rabu, 15 September 2010

kritik ITU perlu seh (2)

13 SEPTEMBER 2010
'Roh', 'Api', Kata Bung Karno
Bung Karno mungkin kesepian. Di Ende, diasingkan oleh pemerintah kolonial sejak Februari 1934, hanya satu-dua orang yang berani mengunjunginya. Tentu saja tak ada rapat umum tempat ia bisa berpidato, dielu-elukan orang ramai, didengarkan dengan kagum.

Seorang penulis biografi politiknya, Bernard Dahm, menyebutkan, dalam kesendirian itu Bung Karno "berpaling mencari lindungan ke dalam Islam". Di Ende, Bung Karno memang banyak bicara soal Islam, tapi saya tak yakin tepatkah kata "lindungan" (dalam versi Inggris "refuge") di situ.

Sejak Desember tahun itu, ia memulai serangkaian korespondensi dengan T.A. Hassan, tokoh "Persatuan Islam" yang beralamat di Bandung. Surat-surat itu, kemudian terkenal sebagai "Surat-Surat Islam dari Endeh", terkumpul dalam Dibawah Bendera Revolusi, sebuah buku monumental yang menghimpun hampir semua risalah yang ditulis Bung Karno di masa pergerakan nasional. Mula-mula ia meminta kepada "saudara-saudara" di Bandung itu agar dikirimi buku-buku. Kemudian surat-surat itu jadi sederet diskusi tentang keadaan umat Islam di Indonesia dan dunia.

Saya belum pernah membaca bagaimana T.A. Hassan membalas. Tapi dari ke-12 surat Bung Karno, tak tampak ada rasa gentar untuk mengecam keadaan Islam waktu itu dengan kata-kata tajam. Artinya, ia tak mencari "lindungan" dalam Islam. Apalagi Islam yang ia saksikan adalah Islam yang dirundung takhayul dan "taqlidisme" dan dihambat "hadramautisme yang jumud-maha-jumud".

Islam yang demikian itu menampik perubahan. Pada 18 Agustus 1936, Bung Karno menulis: "Kita royal sekali dengan perkataan 'kafir', kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap 'kafir'." Maka yang disebut "Islam" akhirnya hanya,

...dupa dan korma dan jubah dan celak-mata! Siapa yang matanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar- dia, dialah yang kita namakan Islam.

"Astagfirullah!" seru Bung Karno.

Saya tak tahu apa yang akan terjadi terhadap Bung Karno seandainya ia hidup di hari ini dengan kata-kata setajam itu. Tapi tampaknya masa lalu belum beringas. Memang di tahun 1928-29, di Pekalongan, Jawa Tengah, ada orang yang menganggap nyawa Bung Karno "halal" untuk dihabisi, karena bicara banyak tentang nasionalisme. Tapi kesan saya, tahun 1930-an adalah masa yang punya ruang luas untuk berpolemik tentang Islam, tanpa hendak saling membungkam. Tulisan tajam Bung Karno dimuat dalam majalah Pandji Islam, yang terbit pada 1935; juga bantahan terhadapnya. Hasilnya: satu mutu perdebatan yang sampai sekarang belum tertandingi.

Hassan bukan orang yang sepaham. Khususnya dalam hal kebangsaan. Buku Luthfi Assyaukanie, Islam and the Secular State in Indonesia, menyebut Hassan sebagai orang yang menganggap tindakan "mengundang dan mengajak orang ke dalam kebangsaan" satu hal yang "dilarang oleh Islam". Sebaliknya Bung Karno menilai "Persatuan Islam", organisasi Hassan, cenderung kepada "sektarisme". Tapi benturan pendapat kedua orang itu-apa pun jawaban Hassan dalam korespondensi bersejarah itu-tak sampai merusak percakapan mereka.

Tentu harus dicatat: seandainya Bung Karno bukan seorang pemimpin pergerakan nasional yang diikuti ribuan orang, mungkin ia tak akan didengar dengan rasa segan. Ada satu hal lain: dalam kritiknya kepada keadaan dunia Islam ia meletakkan diri sebagai orang-dalam: ia memakai kata "kita", bukan "kalian".

Tapi ada faktor yang lebih penting. Indonesia sedang berada dalam kejutan perubahan-perubahan besar sejarah. Kolonialisme memperkenalkan dunia modern yang tak terkalahkan. Tradisi dan adat mulai digugat, modernitas melecut. Masyarakat lama retak. Berdirinya Sarekat Islam (tahun 1912) adalah jawaban atas keretakan itu. Organisasi ini meninggalkan Islam yang dicemooh Bung Karno sebagai celak-kurma-jubah-dupa semata. Lebih jelas lagi Muhammadiyah. Ia lahir dengan tekad menyingkirkan Islam dari "takhayul", dengan keberanian menghalalkan orang Islam mengenakan pakaian Barat dan niat mendirikan sekolah dan rumah sakit seperti dilakukan orang Kristen.

Maka ketika Bung Karno menyebut adanya dynamical laws of progress, tak ada yang membantahnya. Menjelang pertengahan abad ke-20 itu, orang umumnya yakin kemajuan adalah "hukum" sejarah, juga buat umat Islam. "Panta rei, kata Heraclitus-segala hal mengalir, segala hal selalu berubah, segala hal memerlukan pembaharuan," tulis Bung Karno dalam "Me-'muda'-kan Pengertian Islam".

Tapi jika kemajuan tak bisa dielakkan, tak berarti umat Islam tak jadi subyek yang aktif menggerakkannya. Bung Karno, seorang Marxis yang paham dialektika, akan menjawab bahwa sejarah, juga kemajuan, tak hanya terjadi karena ia niscaya. Kemajuan terjadi karena ada kesadaran manusia untuk bertindak.

Maka Bung Karno berkali-kali bicara perlunya umat Islam menghidupkan "Roh Islam yang berkobar-kobar", "api Islam yang menyala-nyala", "dari ujung zaman yang satu ke ujung zaman yang lain".

Dua buah metafor yang memukau-tapi juga dua kiasan yang keliru. Bung Karno tampaknya percaya ada "api" yang kekal, ada "Roh Islam yang sejati". Dengan kata lain, keduanya tak tersentuh oleh sejarah yang bergerak, bebas dari panta rei. Di sini Bung Karno melenceng dari pandangan Marxistisnya sendiri. Dalam pandangan ini "Roh Islam yang sejati" tak akan pernah ada. Yang ada: tafsir orang, di suatu masa, di suatu tempat tentang apa yang "sejati" dan yang bukan.

Dan tentang "Roh"....

Barangkali kita tak perlu istilah yang melambung. "Roh" itu sebenarnya hal yang biasa saja: hasrat manusia untuk tak tenggelam. "Api" itu bukan datang dari luar sejarah, "Roh" itu bukan jatuh dari langit. Keduanya terbit dari dalam pengalaman manusia di atas bumi di dalam kekurangannya.

Itu sebabnya hasrat itu senantiasa ada. Bung Karno, yang terkadang seakan-akan menyamakan "Api" dan "Roh" itu dengan "rasio", mengatakan bahwa ada sebuah masa-tak kurang dari 1.000 tahun-ketika sejarah Islam hanya terdiri atas "abu" dan "debu". Itu adalah masa gelap yang panjang ketika "akal menjadi terkutuk" di ingatan umat.

Tapi benarkah semudah itu gelap menimpa?

Bung Karno termasuk orang yang berasumsi, kebekuan itu bermula dengan berkuasanya pemikiran Abu'l Hasan al-Ash'ari. Sejak berkembangnya Ash'arisme, dan itu berarti di abad ke-9, "Islam bukan lagi satu agama yang boleh difikirkan secara merdeka, tetapi menjadi monopolinya kaum faqih dan tarikat."

Di sini saya kira Bung Karno alpa. Ia tak menjelaskan bagaimana sebuah "haluan" pemikiran dapat demikian berkuasa, hingga "akal, fikiran, rede, reason, dienyahkan". Bung Karno-seorang Marxis yang menafsirkan sejarah-seharusnya tak percaya bahwa Ash'arisme dengan begitu saja telah menghentikan "rasionalisme" berkembang di dunia Islam, hingga akal "hampir seribu tahun dikungkung". Ia tak seharusnya percaya bahwa satu "haluan" dapat menciptakan sebuah kondisi yang bertahan lama.

Apalagi sejarah mencatat, keadaan "terkungkung" itu tak berlangsung "hampir seribu tahun". Juga tak pernah secara mutlak. Dunia Islam terus melanjutkan vitalitasnya di abad ke-12 di Spanyol. Di abad ke-15 Turki Usmani meluaskan kekuasaannya ke Balkan dan merebut Konstantinopel, bahkan mengepung Wina untuk kedua kalinya di abad ke-17. Di India, raja-raja Moghul menghasilkan sastra, teater, dan arsitektur yang dikagumi sampai sekarang, misalnya Taj Mahal. Di Iran, filosof Mulla Sadra membangun Mazhab Ishfahan.

Walhasil, ada yang tak kunjung padam. Bukan "Api" yang kekal, bukan "Roh" yang datang dari luar sejarah, melainkan praxis, atau laku, yang mencoba mengatasi kemandekan, yang mencoba melepaskan diri dari kekurangan. Dalam laku itulah kaidah yang mencengkeram ditabrak, dibengkokkan, atau dibuat elastis. Kata Bung Karno:

Islam tidak akan bisa meninggalkan suasananya abad pertama, tatkala manusia tak kenal lain kendaraan melainkan onta dan kuda, tak kenal lain senjata melainkan pedang dan panah... kalau hukum-hukumnya tidak seperti 'karet'. Zaman beredar, kebutuhan manusia berobah-panta rei!-maka pengertian manusia tentang hukum-hukum itu adalah berobah pula.

Kata "karet" kini punya konotasi yang kurang baik (Bung Karno menerjemahkannya dari kata elastic), tapi agaknya gambaran yang hendak dipaparkan adalah keniscayaan sikap yang luwes, sikap pragmatis: pada mulanya bukan logos yang, seperti didalilkan rasionalisme, tak tersentuh oleh pengalaman di dunia. Pada mulanya adalah laku, "Im Anfang war die Tat," seperti ujar Faust dalam karya Goethe.

Dalam laku, kesadaran lahir. Melalui laku, pengetahuan tumbuh. Pengalamanlah yang menentukan tafsir manusia tentang kaidah dan hukum yang datang dari Kitab Suci.

Manusia keliru bila menolak peran pengalaman. Maka meskipun mengagumi kebangkitan kerajaan Ibnu Saud dari padang pasir Arab, Bung Karno melihat jalan buntu dalam semangat "pemurnian" agama di zaman Raja itu.

Jasa Wahabisme yang terbesar, menurut Bung Karno, adalah "kemurnian"-nya: "Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu-satu takhayul dan seribu-satu bid'ah." Tapi ketika "kemurnian" disamakan dengan "keaslian", pemurnian jadi sesuatu yang menampik sejarah. Wahabisme mencurigai "tiap-tiap kemodernan"; ia seakan-akan pantulan padang pasir yang tak kenal tiupan hawa sejuk dari "lapisan udara negeri lain". Di tahun 1920-an, telepon dan radio diharamkan masuk ke Mekah. Akibatnya, pemurnian berakhir dengan kegagalan. Raja Ibnu Saud akhirnya bertindak mengatasi para ulamanya. Negeri Wahabi itu sedikit berubah.

Sampai di mana batas perubahan itu? Tidakkah, seperti sering ditakutkan, sikap pragmatis, yang begitu luwes terhadap perubahan dalam sejarah, akan mengakhiri kepastian ajaran yang dianggap kekal dan mutlak?

Bung Karno belum menjawab itu. Tapi siapa yang akan bisa menjawab itu, kecuali dengan kata-kata?

Goenawan Mohamad

Selasa, 07 September 2010

HAM itu SUMBANGSIH

George Soros gives $100M to Human Rights Watch
Philanthropist George Soros makes 10-year, $100 million grant to Human Rights Watch



Email
Print

Philanthropist George Soros speaks during an interview with the Associated Press, Tuesday, Sept. 7, 2010, in New York. Soros has announced a 10-year, $100 million grant to Human Rights Watch. (AP Photo/Mary Altaffer)

Jennifer Peltz, Associated Press Writer, On Tuesday September 7, 2010, 8:09 pm EDT
NEW YORK (AP) -- Billionaire philanthropist George Soros is putting up $100 million, one of the largest donations of its kind, to expand Human Rights Watch and help it court more international support.

The financier and major donor to liberal causes said Tuesday that it's become a disadvantage for the group to be primarily funded by Americans because the U.S. has lost the "moral high ground" when it comes to fighting abuses.

The gift, to be distributed over 10 years, is meant as a dramatic start toward major growth for the group, which documents abuses and advocates for human rights in about 90 countries.

Soros' donation is meant to help Human Rights Watch volunteers around the world entice other donors to give enough additional money to boost the organization's budget from $48 million a year to $80 million within five years. The organization envisions hiring about 120 more staffers -- primarily researchers and advocates -- and setting up new offices to encourage such emerging powers as India and Brazil to make human rights a keystone of their foreign policies.

But the money also is meant to make its donor base as international as its outlook. Plans call for Human Rights Watch to draw at least half its income and most of its board members from outside the U.S. within five years. Now, about 70 percent of the money and 80 percent of the board members are U.S.-based.

Soros considers that a liability -- one he blamed on a frequent target of his, former President George W. Bush.

"They're basically an American organization advocating human rights all over the world. But the United States has lost the moral high ground, during the Bush administration, and, therefore, it runs into opposition because there's resentment of American interference," Soros said in an interview in his sleek office in a midtown Manhattan high-rise. " ... It's a drawback, to be American in this context."

For its part, Human Rights Watch says it feels it's seen as independent of the U.S. government, and should be.

"But it is helpful for our organization to personify the global values we promote," Executive Director Kenneth Roth said.

While the gift isn't a record-breaker in the annals of philanthropy -- those are measured in billions -- experts say it's one of the largest in many years to human rights, a cause that in recent years has tended to attract fewer mammoth gifts than such organizations as medical centers and universities.

For human-rights philanthropy, "that is a stunning, jaw-dropping amount," said Doug White, the academic director of the New York University Heyman Center for Fundraising and Philanthropy.

Soros is among several billionaires who have given up a sizeable chunk of their fortunes to philanthropy. TV mogul Ted Turner has given $1 billion to United Nations causes. Microsoft co-founder Bill Gates and investor Warren Buffett have joined forces to advance education, health and other causes around the world with their billions, and are encouraging other tycoons to do the same.

Soros' pledge Tuesday is his largest-ever single donation to a human-rights group, though his Open Society Foundations give about $100 million each year to human-rights-related organizations around the world, including some with a legal or criminal-justice focus.

Soros has donated more than $8 billion during his lifetime. His Open Societies Foundations are on pace to give away about $800 million this year on causes ranging from education to helping Pakistan recover from its recent floods.

Soros has been involved with the 32-year-old Human Rights Watch for decades. Indeed, he says he cut his teeth as a philanthropist by attending weekly meetings there in its early years.

The group has come under fire in the last two years from critics -- including a former chairman -- who feel it has been unfairly harsh toward Israel and favored Palestinian viewpoints.

"It has been issuing reports on the Israeli-Arab conflict that are helping those who wish to turn Israel into a pariah state," Robert L. Bernstein, who helped found the organization and was its chairman for 20 years, wrote in The New York Times last October. "Human Rights Watch has lost critical perspective on (the) conflict."

Human Rights Watch says it looks at Israel through the same lens -- and with the same intensity -- as it does other countries. Only one of its nearly 300 staffers around the world is dedicated full-time to Israel, Executive Director Kenneth Roth said.

Earlier this year, the group said both Israel and Hamas had failed to conduct credible investigations of alleged war crimes during last year's Gaza war; both have denied committing them.

Soros, who is of Jewish descent but an atheist, said he sees the group's work on Israel as proof of objectivity, not bias.

"I think the important thing about human rights, if it is to be a universal priniciple, that it should apply to 'us' as well as 'them,'" Soros said. "And that is why I've been stressing my concern with the behavior of the United States, and the same applies to Israel. One needs to apply the same standards to Israel as one does to others."

Soros, who has become a lightning rod for conservative critics, declined Tuesday to detail the policies he felt had cost the U.S. its moral sway on human-rights issues, save to say that he felt the country had violated its constitution and its laws in the war on terror.

Born in Hungary, Soros emigrated to Britain as a youth after surviving the Nazi occupation of his country and later moved to the United States. He runs a hedge fund and is known for his high-profile success in currency trades. He declined Tuesday to discuss the economy or markets at all.

Associated Press Researcher Monika Mathur contributed to this report.

Sabtu, 04 September 2010

keagamaan indon

Makin Miskin Makin Saleh
SENIN, 13 SEPTEMBER 2010 | 06:24 WIB


TEMPO Interaktif, "Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran." Pernyataan yang diklaim sebagai hadis Nabi Muhammad ini sering diucapkan sejumlah ustad. Kufur itu sendiri memiliki banyak makna. Mulai dari tidak mengakui wujud Allah dan menolaknya, tidak bersyukur akan nikmat-Nya hingga tidak mengamalkan tuntutan agama.


Namun pernyataan itu terbantahkan dengan hasil survei di 114 negara yang dilakukan lembaga Gallup. Ternyata sekitar 95 persen warga dari negara miskin di dunia menganggap agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya di negara kaya, hanya 47 persen warganya yang menilai penting agama.

Negara termiskin dan miskin dalam kategori ini adalah yang rata-rata pendapatan per kapita di bawah U$ 5.000. Antara lain Indonesia, Bangladesh, Niger, Yaman, Malawi, Sri Langka, Somalia, Djobouti, Mauritania dan Burundi. Sementara negara kaya adalah yang rata-rata pendapatan per kapita lebih dari U$ 25.000.

"Ini mencerminkan hubungan yang kuat antara status sosial ekonomi suatu negara dan religiusitas penduduknya," tulis Gallup dalam siaran persnya pekan lalu. Para ahli ilmu sosial memang menjelaskan hubungan antara dua variabel itu.

Satu teori menganalisis bahwa agama memainkan peran yang lebih fungsional di negara-negara miskin. Agama, ujar mereka, membantu banyak penduduk mengatasi perjuangan hidup sehari-hari pada diri dan keluarganya. Hasil survei Gallup mendukung teori itu dan para analisnya menemukan hubungan antara religiositas atau kesalehan dan ikatan emosional yang lebih kuat di negara-negara miskin ketimbang negara maju.

Gallup melakukan survei pada tahun 2009 dengan mewawancarai lewat telepon dan tatap muka pada 1000 responden usia dewasa di setiap negara. Margin error survei ini +- 5,3 persen.

Temuan lain yang menarik dari survei ini adalah penyimpangan yang terjadi di Amerika Serikat. "Di negara ini sekitar 65 persen warganya menganggap agama berperan penting dalam kehidupan sehari-hari." Padahal di negara kaya lain, persentasinya lebih rendah. Misalnya di Swedia (17%), Denmark (19%), Inggris (27%) dan Perancis (30%).

"Ini anomali religiusitas kita di antara negara-negara lainnya," kata Charles M.Blow, kolomnis The New York Times. Dari data survei Gallup, dia membuat grafik religiusitas dikaitkan dengan pendapatan per kapita tiap negara dan mayoritas agama yang dianut. Religiositas masyarakat Amerika Serikat, katanya, menyimpang dari rata-rata penduduk negara kaya lainnya. Boleh jadi di negara Abang Sam berlaku dalil bahwa kekayaan dekat dengan kesalehan.

UNTUNG WIDYANTO | LIVESCIENCE.COM | GALLUP.COM | THE NEW YORK TIMES

September 3, 2010
Religious Outlier
By CHARLES M. BLOW
With all of the consternation about religion in this country, it’s sometimes easy to lose sight of just how anomalous our religiosity is in the world.

A Gallup report issued on Tuesday underscored just how out of line we are. Gallup surveyed people in more than 100 countries in 2009 and found that religiosity was highly correlated to poverty. Richer countries in general are less religious.

But that doesn’t hold true for the United States.

Sixty-five percent of Americans say that religion is an important part of their daily lives. That is compared with just 30 percent of the French, 27 percent of the British and 24 percent of the Japanese.

I used Gallup’s data to chart religiosity against gross domestic product per capita, and to group countries by their size and dominant religions.

The cliché goes, “a picture is worth a thousand words.”

Assuming that this holds true for charts, here is mine.